PROSPEK PENGEMBANGAN SISTEM TERPADU SAPI – PERKEBUNAN SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN PETERNAKAN SAPI DI BENGKULU

29 Apr

AHMAD ZARKASI (E2DO11101)

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Program pembangunan pertanian Provinsi Bengkulu mengacu kepada Rencana Strategis Pemerintah Daerah yang tertuang dalam Visi daerah, yaitu terwujudnya masyarakat yang maju, sejahtera, beriman dan bertakwa serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin dengan ditopang agribisnis dan agroindustri menuju masyarakat madani (BAPPEDA PROVINSI  BENGKULU, 2002). Provinsi Bengkulu menetapkan agribisnis dan agroindustri sebagai lokomotif pembangunan dalam rencana stategisnya. Hal ini dilandasai pada kenyataan bahwa kekuatan utama yang dimiliki oleh Provinsi Bengkulu adalah sumberdaya alam, termasuk pertanian, perkebunan dan peternakan. Guna meningkatkan daya saing berbagai komoditi pertanian, maka pada era globalisasi ini pendekatan pembangunan pertanian menuntut pengembangan teknologi pertanian secara terpadu dan bersinergi untuk mendapatkan nilai tambah.

Permintaan daging secara nasional menunjukkan trend meningkat, dalam kurun waktu tahun 2001 hingga 2005. Permintaan daging ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) sebesar 517,4 ribu ton pada tahun 2001, diprediksi meningkat menjadi 704,6 ribu ton pada tahun 2005. Kontribusi daging sapi sebesar 84,83 % dari permintaan daging ruminansia. Oleh karena itu, diperkirakan permintaan daging sapi pada tahun 2005 akan mencapai 597,7 ribu ton atau setara dengan 3.213.441 ekor sapi, dengan perhitungan tiap ekor sapi mampu menghasilkan 186 kg karkas. Jumlah penduduk di Propinsi Bengkulu pada tahun 2003 sekitar 1.670.645 jiwa dengan tingkat konsumsi daging mencapai 5,34 Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004 113 kg/kapita/tahun. Kontribusi konsumsi daging sapi diperkirakan mencapai 1,2 kg/kapita/tahun dari tingkat konsumsi daging tersebut. Pada tahun 2005 tingkat konsumsi daging sapi sebesar 2,70 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi konsumsi tersebut, maka Propinsi Bengkulu masih membutuhkan produksi daging sapi sebanyak 2.862 ton atau setara dengan 15.387 ekor sapi, dengan asumsi rata-rata peningkatan jumlah penduduk Propinsi Bengkulu adalah 2,71%/tahun dan peningkatan konsumsi daging sapi rata-rata 4,20% per tahun. Bagi Propinsi Bengkulu, perkembangan permintaan dan kebutuhan konsumsi daging sapi tersebut di atas adalah merupakan suatu tantangan yang kemudian dijadikan peluang dalam rangka pengembangan ternak sapi potong. Sapi potong telah ditetapkan oleh Pemerintah Propinsi Bengkulu sebagai komoditas unggulan Propinsi Bengkulu. Disamping itu, kondisi agroklimat dan potensi sumber daya alam propinsi Bengkulu merupakan dukungan bagi pengembangan ternak sapi potong.

Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas.  Dengan adanya reorientasi kebijakan pembangunan sebagaimana tertuang dalam program RPPK (Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan) maka pembangunan pertanian perlu melakukan pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan sub sektor yang lain dalam naungan sektor pertanian.  Hal ini semakin penting untuk dilakukan apabila dikaitkan dengan program swasembada daging tahun 2014. Program swasembada daging ini merupakan respon adanya fakta bahwa kebutuhan konsumsi daging meningkat yang ditandai dengan kecenderungan impor daging dan sapi hidup yang jumlahnya terus meningkat pada dasawarsa terakhir, dimana pada tahun 2002 nilai impor daging (termasuk produk olahannya) dan sapi hidup mencapai US$ 106.003.410,00 sedangkan populasi sapi potong secara nasional dari tahun 1994 – 2002 mengalami penurunan sebesar 3,1 persen  per tahun (BPS, 2003 dan Anonim, 2005).  Menurut data Ditjennak (2004) disitasi Anonim (2005), populasi sapi potong tahun 2000 – 2004 berturut-turut adalah 11.008.017, 11.137.701, 11.297.625, 10.504.128, 10.726.347 ekor.  Sementara itu, impor  daging dan sapi hidup telah menganggu sistem pasar lokal sebagaimana yang telah terjadi pada peternak sapi di Jawa Barat yang mengeluhkan akan adanya daging sapi impor karena telah menurunkan penjualannya hingga 50% (Kompas, 06 Mei 2005). Saat ini usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan (cow calf operation) dalam negeri 99 persen dilakukan oleh peternakan rakyat yang sebagian besarnya berskala kecil dengan tingkat kepemilikan   1 – 5 ekor per KK.  Usaha ini biasanya terintegrasi dengan kegiatan lainnya, sehingga fungsi sapi sangat kompleks (Anonim, 2005).  Oleh karenanya pembuatan kebijakan dalam pembangunan peternakan tidaklah terlepas dari kondisi objektif bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tidak memilah-milah secara jelas antara peternakan dan pertanian umumnya. Hal ini dikarenakan sistem usahatani yang masih bersifat subsisten yang banyak oleh petani gurem. Banyaknya peternakan rakyat yang berperan dalam menghasilkan sapi bakalan ini mendorong perlunya pengembangan peternakan berbasis kerakyatan.  Hal yang menjadi permasalahan adalah bahwa kepemilikan ternak yang relatif kecil tersebut secara ekonomis kurang menguntungkan sementara petani tidak secara khusus melakukan kegiatan usaha peternakan.  Ini, tentu saja, memerlukan upaya bagaimana meningkatkan usaha peternakan dengan tetap terintegrasi dengan sistem usahatani yang tengah dilangsungkannya.

  1. B.     PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan beberapa uraian di atas maka dapat ditarik suatu perumusan masalah sebagai berikut:

  1. Terdapat kesenjangan antara permintaan akan daging  sapi dengan produksi
  2. Produksi daging sapi sebagian besar (99%) dilakukan oleh peternakan rakyat dengan skala usaha antara 1 – 5 ekor sapi sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan, ditambah lagi dengan sistem usaha yang bersifat subsisten
  3. Lahan yang tersedia belum optimal pemanfaatannya karena hanya difungsikan untuk satu jenis usahatani walaupun sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk usahatani ternak secara terintegratif.

 

  1. C.    TUJUAN

Penulisan makalah ini adalah kompilasi dari beberapa pemikiran dan kajian dengan tujuan sebagai berikut :

  1. Melihat pentingnya manajemen produksi dalam pengembangan Agribisnis di Provinsi Bengkulu.
  2. Melihat prospek pengembangan sistem terpadu sapi – perkebunan sebagai upaya pembangunan peternakan di Bengkulu.

 

 

 

 

BAB  II

POTENSI PENGEMBANGAN SISTEM TERPADU

SAPI – PERKEBUNAN SAWIT

 

 

  1. A.    POTENSI LAHAN

Luas lahan Propinsi Bengkulu terletak pada 2° s/d 5° Lintang Selatan dan 101° s/d 104° Bujur Timur dengan luas 19.788 Km2 atau 1.977.098 Ha. Dari luasan tersebut, seluas 1.222.685 Ha  dipergunakan sebagai kawasan budidaya dan peruntukan penggunaan kawasan tersebut untuk perkebunan, sawah, ladang dan lain-lain, disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pemanfaatan lahan di Propinsi Bengkulu dan luasnya

Lahan

Luas lahan (ha)

Perkebunan

293.495

Sawah

55.497

Ladang

27.841

Hutan/Belukar

837.186

Lain-lain

8.666

Jumlah

1.222.685

 

Berdasarkan tata ruang di masing-masing daerah lahan tersebut dikategorikan untuk budidaya bidang Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Perkebunan. Namun di lain pihak, lahan seluas 1.222.685 Ha (Tabel 1) juga berpotensi untuk pengembangan   usaha peternakan, baik untuk usaha khusus temak maupun dalam bentuk integrasi ternak dengan usaha lainnya. Daya tampung ternak Hasil analisis daya dukung wilayah berdasarkan atas kemampuan menghasilkan hijauan pakan ternak secara alami (tanpa budidaya), menunjukan bahwa daya tampung wilayah untuk temak ruminansia dalam Satuan Ternak (ST) dari kabupaten/kota disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Daya tampung ternak per kabupaten/kota

Kabupaten

Daya tampung (ST)

Bengkulu Utara, Muko-Muko

57.522,47

Bengkulu Selatan, Seluma, Kaur

26.332,29

Rejang Lebong, Kepahiyang, Lebong

26.073,66

Kota Bengkulu

1.036,64

Jumlah

110.965,04

ST = Satuan ternak

Populasi ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) di Propinsi Bengkulu pada tahun 2003, terdapat pada Tabel 3. Dari data populasi ternak (Tabel 3), bila dikonversikan ke dalam Satuan Ternak (ST), maka jumlah Satuan Ternak di Propinsi Bengkulu pada Tahun 2003 adalah 79.343,68 ST. Sementara itu, daya tampung wilayah Propinsi Bengkulu yaitu 110.965,04 ST (Tabel 2).

Tabel 3.  Populasi ternak ruminansia di Propinsi Bengkulu

Jenis ternak

Jumlah (ekor)

Sapi

82.614

Kerbau

48.190

Kambing

122.534

Domba

2.227

Sumber:   Dinas Peternakan dan   Kesehatan   Hewan   Propinsi   Bengkulu (2004) Lokakarya

Nasional Sapi Potong 2004

 

Berdasarkan data Tabel 2 dan 3, maka diperhitungkan jumlah ternak yang masih dapat ditambahkan untuk memenuhi daya tampung tersebut yaitu 110.965,04 ST dikurangi 79.343,68 ST adalah 31.621,36 ST atau setara dengan 45.174 ekor sapi. Dengan demikian, tanpa melakukan budidaya hijauan pakan temak secara besar-besaran, kemampuan daya tampung pengembangan ternak sapi yang masih dapat ditambahkan di Propinsi Bengkulu adalah sekitar 45.000 ekor. Apalagi jika fokus pembangunan peternakan diarahkan pada pengembangan sapi potong secara intensif dengan menggunakan teknologi, maka daya tampung tersebut sangat mungkin ditingkatkan. Di Propinsi Bengkulu, dengan ditemukan sistem terpadu sapi-kelapa sawit, maka daya tampung ternak dapat ditingkatkan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa per hektar kebun sawit dapat digunakan untuk memelihara sapi sebanyak 1−3 ekor (DIWYANTO, 2003). Dengan demikian, dari kebun sawit seluas 45.873 Ha di Bengkulu, maka dapat ditambahkan pengembangan ternak sapi sekitar 45.000 ekor lagi. Prioritas lokasi pengembangan sapi potong di Bengkulu yang perlu dioptimalkan pengelolaannya adalah (1) lokasi perkebunan sawit yang tersebar di Kabupaten Bengkulu Utara, Muko-Muko, Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur, (2) lokasi pengembangan padi dan sayuran di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiyang dan Lebong, (3) Pulau Enggano seluas 40.014 Ha yang masih dalam bentuk kebun rakyat dan hutan/belukar sangat memungkinkan untuk pengembangan ternak sapi, dan (4) perkampungan ternak sapi di Desa Padang Penaik, Kabupaten Muko-Muko yang luasnya lebih kurang 400 Ha.

  1. B.     POTENSI PASAR

Gambaran potensi pasar, antara lain dapat dilihat dari perkembangan  supply dan demand daging sapi di Propinsi Bengkulu selama 5 tahun, yaitu mulai Tahun 1998 hingga 2002, yang disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan gambaran perkembangan Supply dan  Demand daging sapi di Propinsi Bengkulu mulai tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 (selama 5 tahun), dapat diketahui bahwa kekurangan daging sapi di Bengkulu berkisar antara 900 hingga 2.114 ton. Pada kurun waktu 3 tahun terakhir, kekurangan daging sapi berkisar 2.000 ton. Dalam upaya memenuhi permintaan daging kebutuhan lokal Propinsi Bengkulu, maka pengembangan ternak sapi potong akan diprioritaskan, karena Pemerintah Propinsi Bengkulu telah mencanangkan dan menetapkan ternak sapi potong sebagai Komoditas Unggulan. Selain untuk memenuhi kebutuhan lokal Propinsi Bengkulu, ternak sapi potong juga diprogramkan untuk memasok propinsi tetangga. Hal ini dimungkinkan karena dalam beberapa tahun terakhir ini Propinsi Bengkulu telah mengeluarkan ternak sapi potong. Adapun daerah tujuan adalah Propinsi Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi dan Propinsi Riau. Pengiriman ternak ini ditunjang oleh hubungan jalan darat yang sangat lancar. Disamping itu, dalam menunjang rencana kegiatan ekspor ternak sapi potong ini, Propinsi Bengkulu telah mempersiapkan Pelabuhan Laut Pulau Baai yang berlokasi di Kota Bengkulu dan Pelabuhan Laut PT Agricinal yang berlokasi di Kabupaten Bengkulu Utara.

Tabel 4.  Perkembangan  supply dan  demand daging sapi di Propinsi Bengkulu selama Tahun 1998 hingga 2002 (ton)

Uraian

Tahun

1998

1999

2000

2001

2002

Demand

2.084

2.597

2.967

3.345

3.692

Supply

1.184

1.182

878

1.309

1.578

Kekurangan

900

1.415

2.089

2.036

2.114

 

 

Sumber:  Dinas Peternakan dan   Kesehatan   Hewan   Propinsi   Bengkulu (2004)  Lokakarya

Nasional Sapi Potong 2004

 

Untuk meningkatkan potensi pasar daging sapi di Propinsi Bengkulu kedepan, paradigma pengembangan ternak sapi potong akan berorientasi kepada agribisnis, dimana sub sistem hilir yang meliputi pengolahan dan pemasaran hasil petemakan akan lebih diperhatikan. Kegiatan-kegiatan ini merupakan rangkaian sub sistem yang sangat strategis sebagai penghela subsistem lainnya. Kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil peternakan di Propinsi Bengkulu akan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan penanganan pascapanen, pengolahan produk yang menghasilkan produk segar, produk olahan dan produk hasil ikutan lainnya termasuk pengembangan mutu produk untuk menghasilkan bahan pangan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Kegiatan ini diprioritaskan, karena nilai tambah terbesar dalam sistem agribisnis peternakan adalah sub sistem pengolahan dan pemasaran hasil (17−23%) dan adanya perubahan preferensi konsumen dari komoditas ke produk yang ASUH. Dalam rangka untuk memfasilitasi kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil peternakan khususnya daging Sapi, Pemerintah Propinsi Bengkulu telah mempersiapkan Rumah Potong Hewan (RPH) Type B yang terletak di Kota Bengkulu dan RPH Type C di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu Selatan dan Kabupaten Bengkulu Utara serta bagi Kabupaten Muko-Muko, Seluma, Kaur, Kepahiyang dan Lebong yang sedang dalam tahap perencanaan.

  1. C.    PENYERAPAN TENAGA KERJA DAN PENINGKATAN PENDAPATAN

Dalam pengembangan usaha sapi potong terjadi juga penambahan populasi ternak. Hal ini juga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Dari data di atas, diketahui bahwa di Propinsi Bengkulu dapat ditambahkan 90.000 ekor ternak sapi. Bila 1 (satu) tenaga kerja pria dapat memelihara 3−6 ekor sapi, maka penambahan penyerapan tenaga kerja adalah 15.000 hingga 30.000 orang. Penambahan usaha sapi potong dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan petani. Hasil perhitungan dan pengamatan di lapangan, diketahui bahwa keuntungan per tahun dari usaha penggemukan sapi rakyat di Bengkulu rata-rata Rp. 1.060.807 per ekor (DINAS  PETERNAKAN DAN  KESEHATAN HEWAN  PROPINSI BENGKULU, 2004). Bila dikembangkan 45.000 ekor sapi,maka jumlah penambahan pendapatan peternak mencapai Rp. 47.736.315.000 per tahun. Pengembangan sapi di perkebunan sawit secara integrasi akan memberikan keuntungan per tahun yang lebih besar dibandingkan pemeliharaan sapi tanpa integrasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan dari pemeliharaan sapi dewasa per ekor adalah Rp. 2.500.000 per tahun (GUNAWAN et al., 2004). Dengan demikian, dari 45.000 ekor sapi yang dikembangkan dengan sistem integrasi sapi–sawit, maka akan diperoleh penambahan pendapatan peternak sebesar Rp. 112.500.000.000 per tahun.

 

BAB  III

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PENGGUNAAN LAHAN DAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Secara umum, penggunaan lahan untuk semua jenis lahan mengalami peningkatan sejak tahun 1995 sampai 1998.  Bukan hanya pemanfaatan lahan untuk bangunan – sebagai konskuensi pertambahan populasi dan aktivitas pembangunan – yang meningkat, pemanfaatan lahan untuk perkebunan, penggembalaan dan lahan yang sementara tidak diusahaan juga mengalami peningkatan (Tabel 1).

Tabel 1.  Luas penggunaan lahan di Indonesia

No.

Jenis Lahan

Th  1995

Th  1996

Th   1997

Th   1998

1

Sawah

8.484.687

8.519.110

8.490.044

8.504.917

2

Pekarangan/Lahan Bangunan dan halaman sekitarnya

5.155.422

5.291.375

5.331.489

5.516.440

3

Tegal/Kebun

8.244.882

8.383.599

8.382.311

8.568.675

4

Ladang/Huma

3.123.625

3.179.213

3.225.883

3.247.242

5

 Padang Rumput

1.889.399

1.953.085

2.056.332

2.016.972

6

 Rawa-rawa

3.883.019

4.172.930

4.270.515

4.268.701

7

Tambak

422.564

438.500

467.265

481.315

8

Kolam/Tebat/Empang

182.156

183.860

168.716

168.377

9

Lahan yang Sementara Tidak Diusahakan

6.967.938

7.335.586

7.577.909

7.720.257

10

Lahan  Tanaman Kayu-kayuan

9.555.010

9.446.070

9.133.621

9.072.416

11

Perkebunan Negara

13.835.746

14.488.415

15.016.014

16.460.966

  Total

61.744.448

63.391.743

64.120.099

66.026.278

 

Sumber:    http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/sdl/lspenggunaan_lahan_ind.htm

 

Peningkatan penggunaan lahan untuk padang penggembalaan, lahan yang sementara tidak diusahakan dan perkebunan mengisyaratkan adanya peluang untuk dimanfaatkan bagi pengembangan peternakan secara lebih optimal.  Untuk lahan perkebunan tertentu (misal kelapa sawit) dapat diterapkan sistem integrasi sapi – kelapa sawit.  Satu hal lagi yang belum terungkap dari data di atas adalah peningkatan jumlah perkebunan rakyat, terutama perkebunan kelapa sawit.  Luas kebun kelapa sawit secara nasional mengalami peningkatan secara signifikan.  Pada tahun 2000 terdapat 4.158.079 ha, tahun 2001 meningkat menjadi 4.713.435 ha dan 2002 meningkat lagi menjadi 5.067.058 ha (http://www.deptan.go.id).  Luasan lahan kebun kelapa sawit yang sedemikian tersebut akan memberi keuntungan ganda bila dikombinasikan dengan peternakan sapi potong.  Bila diasumsikan per hektar mampu menampung 3 ekor sapi dewasa maka  secara kasar dapat dikalkulasikan bahwa luas areal kebun kelapa sawit  tersebut dapat menambah tidak kurang dari 15 juta ekor sapi dewasa.  Data populasi sapi potong hingga tahun 2004 adalah sebanyak 10.726.347 ekor dan bila ditambah dengan populasi sapi potong yang dapat ditampung pada areal kebun kelapa sawit maka  jumlahnya bisa menjadi tidak kurang dari 25 juta ekor.  Penambahan populasi sebanyak 15 juta ekor tentu saja suatu peningkatan yang signifikan dalam rangka menuju swasembada daging 2014.

  1. B.     TAWARAN SOLUSI

Berdasarkan uraian dan perumusan masalah yang ada maka solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan “pengembangan ternak sapi melalui sistem integrasi dengan perkebunan kelapa sawit”.  Melalui sistem integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan total pendapatan usahatani dan menekan biaya produksi sekaligus dapat meningkatkan populasi sapi.  Sasaran dari solusi ini adalah petani di luar Jawa yang masih memungkinkan karena terdapat lahan perkebunan yang memenuhi syarat untuk diterapkannya sistem terpadu dengan sapi.

  1. C.    RENCANA IMPLEMENTASI

Tawaran solusi di atas dapat diimplementasikan dalam beberapa tahap, yaitu tahap jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.  Masing-masing tahapan ini diuraikan sebagai berikut.

1.  Jangka pendek

Langkah pertama pelaksanaan ini adalah melalui pemberian pinjaman lunak dalam bentuk bibit sapi kepada para petani yang memiliki kebun sawit.  Selanjutnya, diterbitkan kebijakan bagi usaha perkebunan negara dan swasta untuk dapat menerapkan sistem integrasi bila memungkinkan.  Untuk dapat mewujudkan langkah ini maka diperlukan kebijakan anggaran, oleh karenanya maka perlu adanya terobosan fiskal dan moneter yang terkait dengan program ini sehingga akan memberi kemudahan dari segi fiskal dan moneter. Solusi awal pada tahap jangka pendek ini adalah memberikan suntikan “modal” kepada petani/peternak, dimana ternak dapat dipergunakan sebagai tenaga kerja dalam usahatani perkebunannya sekaligus dapat memberi kontribusi pada kesuburan berupa pupuk organik.

2.  Jangka Menengah

Pada tahap jangka menengah ini dikembangkan suatu konsep kawasan peternakan sapi yang terintegrasi dengan sistem usahatani perkebunan. Pada jangka menengah ini diharapkan populasi ternak sapi telah meningkat sehingga dapat diterapkan suatu sistem pemberdayaan usaha peternakan.  Sistem pemberdayaan ini dapat berupa pengembangan sistem perbibitan, pos kesehatan hewan, manajemen dan jaringan pemasaran produk. Termasuk dalam upaya ini adalah adanya kelembagaan  petani dan jaringan kemitraan antara perkebunan swasta dengan perkebunan rakyat dalam kaitannya dengan sistem usahatani integratif.

3.  Jangka Panjang

Tujuan jangka panjangnya adalah pengembangan industri pertanian berbasis peternakan dan perkebunan.  Jangka panjang ini tercapai bila tahap jangka menengah telah tercapai, yaitu telah terbentuknya suatu sistem kawasan pertanian/peternakan dengan sistem pemberdayaan usaha yang memadai. Sistem industri pertanian ini tentu saja membutuhkan modernisasi pertanian (peternakan), untuk itu diperlukan pengembangan manajemen profesional yang melibatkan petani sebagai subyeknya.  Pada saat yang bersamaan dikembangkan juga 6 teknologi tepat guna, misalnya teknologi transportasi, pengolahan limbah dan kotoran ternak, teknologi pemotongan ternak dan lain-lain.  Agar modernisasi pertanian dapat berjalan dengan sebaik-baiknya maka pemberdayaan petani menjadi mutlak dilakukan, yaitu upaya meningkatkan kemampuan petani dalam usaha budidaya pertaniannya yang berorientasi agribisnis.

  1. D.    PENGEMBANGAN SISTEM PERKUATAN USAHATANI

Pada pengembangan kawasan (tahap jangka menengah) menuju pengembangan sistem industrial (tahap jangka panjang) maka perlu dibangun suatu sistem pemberdayaan/perkuatan bisnis yang mendukung sistem usahatani peternakan sapi ini.  Beberapa komponen yang mendukung sistem usahatani ini adalah a) agribisnis peternakan itu sendiri, yaitu industri hulu dan hilir  dan b) agribisnis turunan peternakan.

1.  Agribisnis Peternakan

Dalam  pengembangan sistem perkuatan pada agribisnis peternakan ini mencakup pengembangan industri hulu dan hilir.  Pengembangan industri hulu meliputi perlunya pembangunan sistem perbibitan berupa calon-calon induk dan pejantan unggul, dan ketersediaan pakan baik secara kuantitatif dan kualitatif serta alat dan mesin sarana produksi.  Pada sistem perbibitan dapat dilakukan melalui program IB dan penyediaan pejantan unggul.  Penyediaan pakan dalam pola integrasi dapat dipenuhi melalui pemanfaatan limpahan biomassa hasil samping usaha perkebunan maka dapat mengurangi biaya pakan secara signifikan, sementara kotoran ternak juga dapat dimanfaatkan untuk perkebunan berupa pupuk organik.  Dengan demikian maka diharapkan akan menuju usaha pertanian terpadu yang ‘zero waste’. Pada industri hilir perlu dikembangkan industri pascapanen dan pengolahan. Disini perlu dikembangan Rumah Potong Hewan (RPH) dan tempat penyimpanan produk secara memadai.  Bilamana perlu masyarakat dan swasta didorong untuk dapat mengembangkan industri pengolahan daging.

2.  Agribisnis Turunan Peternakan

Pengembangan agribisnis ini akan turut menunjang perkuatan sistem pemberdayaan usahatani peternakan.  Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pengembangan usaha energi alternatif  berupa biogas dan pengembangan pupuk organik melalui pemanfaatan kotoran ternak.

  1. E.     POTENSI PENGEMBANGAN SISTEM TERPADU SAPI – PERKEBUNAN SAWIT

 

Potensi lahan perkebunan sawit Provinsi Bengkulu mempunyai luas wilayah 1.978.870 ha yang terdiri dari 696.924 ha kawasan lindung, 444.882 ha kawasan konservasi dan 1.281.946 ha kawasan budidaya. Luas tanaman kelapa sawit di Bengkulu sekitar 84.409 ha, yang terdiri dari 38.336 ha Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), 45.873 ha Tanaman Menghasilkan (TM) dan 200 ha tanaman berumur tua. Luas perkebunan kelapa sawit ini diperkirakan akan Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi terus meningkat. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh swasta mencapai luas tanam 44.159 ha, sedangkan milik perkebunan rakyat adalah 38.680 ha (DISBUN  PROVINSI BENGKULU, 2004). Pesatnya perkembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekurangan areal yang dapat dipergunakan untuk usaha ternak, terutama sapi. Oleh karena itu, memadukan tanaman kelapa sawit dengan usaha peternakan sapi merupakan salah satu wujud optimalisasi penggunaan sumberdaya lahan tanpa harus menimbulkan dampak negatif.  Potensi ternak sapi potong Pada tahun 2005 tingkat konsumsi daging sapi di Provinsi Bengkulu sebesar 2,70 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih dibutuhkan produksi daging sapi sebanyak 2.862 ton atau setara dangan 15.387 ekor sapi dengan asumsi rata-rata peningkatan jumlah penduduk Provinsi Bengkulu adalah 2,71%/tahun dan peningkatan konsumsi daging 4,20%/tahun (DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI  BENGKULU, 2004). Perkembangan permintaan dan kebutuhan konsumsi daging sapi tersebut merupakan suatu tantangan yang kemudian dijadikan peluang untuk pengembangan sapi potong. Di Provinsi Bengkulu lahan budidaya seluas 1.222.685 ha berpotensi untuk pengembangan usaha ternak sapi potong dalam bentuk integrasi antara ternak sapi dengan usaha perkebunan kelapa sawit. Kemampuan penambahan ternak sapi potong di Provinsi Bengkulu sekitar 90.000 ekor yang terdiri dari 45.000 ekor untuk memenuhi daya tampung wilayah dan 45.000 ekor untuk implementasi Sistem terpadu sapi-perkebunan sawit. Memadukan pemeliharaan sapi dengan tanaman kelapa sawit selain dapat menghasilkan daging sebagai sumber protein hewani, manfaat lain adalah ternak sapi dapat digunakan sebagai tenaga penarik gerobak untuk mengangkut hasil panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari dalam perkebunan ke jalan utama.

  1. F.     SISTEM TERPADU DI PERKEBUNAN RAKYAT DAN SWASTA

 

Keterpaduan (integrasi) usaha peternakan sapi di kawasan perkebunan kelapa sawit menjadi alternatif usaha  cow–calf operation. Bila perkebunan kelapa sawit swasta dan rakyat di Indonesia diarahkan menjadi sentra bibit sapi potong, maka dalam kurun waktu tertentu hal ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada sapi dan daging impor. Saat ini, sistem integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit dipelopori di Provinsi Bengkulu. Sistem terpadu sangat berpeluang untuk dikembangkan pada perkebunan kelapa sawit yang telah mencapai luas areal tanam 4,80 juta ha di Indonesia.  Pada tahun 2004, BPTP Bengkulu telah melakukan evaluasi model Sistem Terpadu yang diterapkan oleh PT Agricinal dengan pola inti – plasma dan melaksanakan pengkajian tentang model Sistem Terpadu pola swadaya pada perkebunan rakyat di Bengkulu.

  1. G.    SISTEM TERPADU DI PERKEBUNAN RAKYAT

Kelapa sawit telah berkembang di kalangan petani (rakyat) yang sebagian besar ditanam di lahan kering Podsolid Merah Kuning (PMK). Luas areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 38.336 ha dan Tanaman Menghasilkan (TM) mencapai 45.873 ha. Peta sebaran luas pertanaman sawit rakyat di Provinsi Bengkulu terdapat di empat kecamatan yaitu di Kecamatan Giri Mulya dan Teras Terunjam, Kabupaten Bengkulu Utara dan Kecamatan Talo serta Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bengkulu Selatan. Dua wilayah yang menjadi sentra produksi kelapa sawit adalah wilayah Selatan, terdiri atas Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan serta Kabupaten Kaur dan wilayah Utara terdiri atas Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Muko-Muko. Model Sistem Terpadu pada perkebunan rakyat di Bengkulu disesuaikan dengan rata-rata kepemilikan lahan sawit per keluarga. Pada saat ini, kepemilikan lahan sawit rakyat rata–rata adalah 2 ha untuk tanaman yang menghasilkan dan 1 ha untuk tanaman yang belum menghasilkan. Dengan luas lahan 3 ha maka jumlah sapi yang dibutuhkan untuk integrasi adalah 3 ekor terdiri atas 1 ekor sapi jantan untuk pengangkut TBS dan 2 ekor sapi betina untuk perkembangbiakan. Apabila petani sawit melakukan model integrasi maka akan terdapat beberapa sumber pendapatan tambahan, sumber-sumber pendapatan tersebut adalah:  (i) hasil penjualan sapi, (ii) nilai jual pupuk kandang yang dihasilkan dari 3 ekor sapi, (iii) penghematan biaya pembelian pupuk anorganik, karena telah digunakan pupuk kandang secara intensif, (iv) pengurangan biaya angkut TBS dari kebun ke lokasi penjualan, yaitu biaya angkut tersebut dapat dihilangkan karena alat angkut TBS diganti dengan sapi dan (v) pengurangan biaya pakan, karena sapi dapat memanfaatkan limbah kelapa sawit, rumput dan gulma yang tumbuh di lahan sawit.

  1. H.    MANFAAT DAN KEUNTUNGAN SISTEM TERPADU SAPI – PERKEBUNAN SAWIT

Sistem Terpadu (integrasi) sapi dengan perkebunan kelapa sawit memiliki prospek untuk dikembangkan. Beberapa keuntungan Sistem Terpadu adalah: Efisiensi tenaga kerja Pemanfaatan ternak sebagai tenaga kerja akan membantu mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia dalam mengangkut hasil panen TBS. Menurut SITOMPUL (2003), sebelum menerapkan Sistem Terpadu, pada areal kebun 5000 ha dibutuhkan tenaga kerja panen sebanyak 600 orang, namun dengan Sistem Terpadu hanya diperlukan pemanen sebanyak 400 orang. Pada areal 281.371 ha lahan, dari kebutuhan tenaga kerja permanen 33.882 orang hanya diperlukan 22.508 orang, atau terjadi efisiensi jumlah tenaga kerja sebanyak 11.374 orang. Jika dalam sebulan perusahaan harus membayar upah panen sebesar   Rp 700.000,- per orang, maka dari segi biaya terjadi efisiensi sebesar Rp 7.961.800.000,- per bulan. Efisiensi penggunaan pupuk ternak sapi akan meningkatkan pemanfaatan kotoran sapi untuk pupuk kandang bagi perkebunan sawit. Melalui peningkatan penggunaan pupuk kandang, maka penggunaan pupuk anorganik berkurang. Keuntungan yang diperoleh petani Sistem Terpadu akan bertambah bila diperhitungkan penghematan dalam pemakaian pupuk kandang untuk sawit dan pemanfaatan limbah sawit untuk pakan sapi. Hal ini menunjukan adanya efisiensi pemupukan dan biaya pakan sapi (GUNAWAN et al., 2004).

BAB  IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.    KESIMPULAN

Provinsi Bengkulu memiliki potensi sumberdaya alam dan agroklimat yang mampu

  1. mendukung pengembangan ternak sapi potong. Pengembangan ternak sapi ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan peternak dan penyerapan tenaga kerja.
  2. 2.        Model pengembangan sapi potong yang dipadukan dengan perkebunan kelapa sawit terbukti mampu memberikan tambahan penghasilan kepada petani. Selain memperoleh pendapatan dari usaha penggemukan sapi, petani juga memperoleh hasil penjualan TBS kelapa sawit, penjualan dan penggunaan kotoran ternak sapi dalam bentuk pupuk, memperoleh manfaat dari pelepah kelapa sawit dan hasil ikutan pengolahan buah sawit sebagai pengganti hijauan pakan sapi sehingga mengurangi biaya pakan dan penghematan tenaga kerja.
  3. B.     SARAN
  4. Diperlukan adanya kebijakan pemerintah untuk pengembangan peternakan sapi melalui integrasi dengan perkebunan sawit  mengingat luas lahan perkebunan sawit baik perkebunan swasta maupun perkebunan rakyat sangat potensial untuk pengembangan sistem terpadu sapi – perkebunan.
  5. Pengembangan peternakan saat ini masih dilakukan oleh peternakan rakyat yang sebagian besarnya berskala kecil dengan tingkat kepemilikan   1 – 5 ekor per KK, sehingga tidak memberikan keuntungan ekonomis. Oleh karena itu perlu target pengembangan usaha peternakan rakyat dengan skala ekonomi paling tidak dengan tingkat kepemilikan diatas 10 ekor per KK, karena akan memberikan tingkat  kesejahteraan yang memadai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonim. 2005.  Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Sapi.  Jakarta: Deptan.

BAPPEDA  PROVINSI  BENGKULU. 2002. Rencana Strategis Pembangunan Provinsi

            Bengkulu

Badan Pusat Statistik. 2003.  Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia: Impor

           2002 Vol 2.  Jakarta: BPS

DINAS  PETERNAKAN DAN  KESEHATAN  HEWAN PROPINSI  BENGKULU. 2002. Informasi

             Potensi dan Peluang Pasar Komoditi Unggulan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan

Propinsi Bengkulu. Bengkulu

 

DINAS  PETERNAKAN DAN  KESEHATAN  HEWAN PROPINSI  BENGKULU. 2004. Prospek          

Pengembangan Sapi Potong di Propinsi Bengkulu. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu.  Bengkulu. Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004

 

DIREKTORAT  JENDERAL  BINA  PRODUKSI PETERNAKAN. 2003. Buku Statistik Peternakan

Tahun 2003. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian RI.

Jakarta

 

DIWYANTO, K., D. SITOMPUL, I. MANTI, I.W. MATHIUS dan SOENTORO. 2003. Pengkajian

Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit–Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional

Sistem Integrasi Kelapa Sawit–Sapi. Bengkulu, 9–10 September 2003. Departemen Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Bengkulu dan PT. Agricinal.

 

GUNAWAN, B. HERMAWAN, SUMARDI DAN  E.P. PRAPTANTI. 2004. Keragaan Model

Pengembangan Integrasi Sapi–Sawit pada Perkebunan Rakyat di Propinsi Bengkulu. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman–Ternak di Denpasar, Bali pada Tanggal 20–22 Juli 2004.

 

http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/sdl/lspenggunaan_lahan_ind.htm

http://www.deptan.go.id/bdspweb/f4-free-frame.asp

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: