ANALISIS SISTEM AGRIBISNIS BUDIDAYA IKAN NILA

10 May

OLEH : JHOY SHANDI (E2D011112)

Latar  Belakang

Perikanan budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan. Menurut Made L. Nurjana (2006) besarnya kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi, pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun 2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton.

Permintaan pasar dalam negeri untuk kebutuhan hasil perikanan semakin meningkat dari tahun ke tahun, keadaan ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat yang sudah cukup mengerti tentang besarnya manfaat kebutuhan gizi dan kesehatan guna meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan pada anak-anak dan mengurangi gejala kekurangan gizi pada manusia. Dukungan pemerintah dalam menunjang terpenuhinya kebutuhan bibit berkualitas memang telah ada akan tetapi belum mencukupi sehingga bibit yang dipakai masih memiliki kualitas rendah yang mengakibatkan produktivitas tidak masksimal. Harga pakan yang kianmeroket juga menjadi permasalahan bagi petani ikan karena sangat pakan memiliki komposisi 65% dari kebutuhan modal, sedangkan harga jual sangat berfluktuasi yang dapat merugikan bagi petani.

Budidaya Ikan Nila

Sebelum melakukan kegiatan budidaya ikan, langkah pertama yang harus diperhatikan dalam persiapan budidaya yaitu pengelolaan tanah dan pengelolaan air.  Pengelolaan tanah bertujuan untuk men-ciptakan kondisi optimum tanah agar dapat menyediakan lingkungan yang layak sebagai tempat hidup ikan. Pengelolaan tanah meliputi pengolahan tanah, pengapuran dan pemupukan. Setelah dilakukan pengolahan tanah, lang-kah selanjutnya adalah pengelolaan air.

Benih ikan yang telah dideder dan dipe-lihara dengan baik selama masa tertentu (1-4 bulan) tidak semuanya memiliki ukuran yang sama, demikian juga benih ikan tidak semuanya sehat. Oleh karena itu, benih ikan yang akan dibe-sarkan harus diseleksi terlebih dahulu un-tuk mendapatkan benih ikan yang berukur-an sama, sehat dan pertumbuhannya baik.Benih–benih ikan yang telah diseleksi dapat segera disebarkan ke kolam pembesaran. Untuk men-cegah kematian benih ikan akibat stress, peru-bahan suhu yang mendadak dari wadah ke kolam pembesaran, pelukaan dan serangan penyakit, maka dalam menebarkan ikan ke kolam pembesaran hendaknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan padat pen-barannya perlu diperhatikan. Pada budidaya ikan nila luas lahan 790 m2 yang terdiri dari 5 unit kolam, rata–rata seluas 158 m2/kolam, mempunyai padat penebaran sekitar 50-52 ekor/m2 dengan berat ikan 20gr, dan per kolam terdapat 8.182 ekor ikan nila dengan mortalitas sebesar 10 %.

Menurut Suyanto S.R. (2004), banyaknya makanan yang diberikan harus diperhitungkan dengan harga pakan dan nilai produksi ikan yang akan diperoleh. Perhitungan ini penting untuk menghindari kerugian. Beratnya ransum per hari harus diperhitungkan secara cermat. Setiap kolam harus dibuatkan tabel pakan sendiri sesuai dengan kepadatan ikan yang dipelihara dan target produksi. Pakan yang diberikan sebaiknya habis dalam 5 menit. Jika pakan tidak habis dalam 5 menit berarti ikan ada gangguan. Gangguan dapat berupa sera-ngan penyakit, perubahan kualitas air, udara panas, atau telalu sering diberi pakan.

Budidaya ikan tidak lepas dari gangguan hama dan penyakit. Datangnya penyakit dise-babkan oleh beberapa hal seperti lingkungan budidaya, teknik budidaya, penanganan panen dan pasca panen yang kurang baik serta tidak sesuainya ukuran dan jenis bahan ynag digu-nakan pada wadah penampungan sehingga ikan luka. Datangnya penyakit merugikan dari sisi produktifitas oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan datangnya penyakit dan pengendalian penyakit yang menyerang.

Faktor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan ikan adalah pH air yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, perubahan suhu air yang terlalu mendadak, zat–zat beracun yang ada dalam air, penumpukan kotoran atau sisa – sisa makanan, kadar oksigen dalam air rendah, kejenuhan gas (nitrogen, oksigen dan karbondioksida) serta kadar amoniak yang tinggi.

Pemanenan ikan dilakukan dengan mem-perhatikan umur ikan, bobot ikan saat tebar, bobot ikan saat panen, dan waktu pemanenan. Pada budidaya ikan nila, ukuran tebar ikan 20 gr/ekor dan lama pemeliharaan 4 bulan diperoleh berat ikan saat panen 300 gr/ekor. Ikan–ikan yang telah dipanen harus tetap dipetahankan mutunya sampai di pasaran. Oleh karena itu, penanganan pasca-panen harus dilakukan dengan baik dan benar. Penanganan pascapanen ikan yaitu pembersihan, pemberokan, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran

Pada saat pengangkutan sering kali ikan mengalami kerusakan. Untuk menekan kerusakan sekecil mungkin, maka ikan harus dikemas dengan baik. Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah wadah untuk mengemas ikan, kepadatan ikan dalam wadah dan sistem pengangkutan (Cahyono bambang, 2000). Untuk pengemasan ikan gurami petani ikan menggunakan jerigen plastik karena ikan masih dalam keadaan hidup, sedangkan ikan nila sudah dalam keadaan mati sehingga dapat menggunakan box fiberglass atau styrofoam.

Saat pengangkutan, kepadatan ikan sangat tergantung pada ukuran ikan, sistem pengangkutan dan lamanya pengangkutan. Apabila ikan terlalu padat akan menyebabkan ikan cepat rusak dan membusuk atau mati. Pada pengangkutan ikan gurami yang menggu-nakan jerigen plastik kepadatan pengangkutan 30 kg dalam 120 liter air selama 6 jam. Sedang-kan ikan nila dalam setiap box kepadatan maksimalnya adalah 70 kg, sehingga jumlah ikan nila saat pengangkutan adalah sekitar 230 ekor/box dengan ukuran panen 300 gr/ekor.

Pemasaran

Pasar pada usaha budidaya ikan nila yang dimaksudkan adalah pasar reseller, yaitu suatu pasar yang terdiri dari individu dan organisasi yang melakukan penjualan kembali barang dan jasa untuk menda-patkan keuntungan. Secara teknis, pemasaran ikan gurami dan ikan nila lebih ditekankan pada strategi bauran pemasaran hal ini dilakukan karena luasnya kegiatan pemasaran. Penentuan lokasi dan distribusi serta sarana dan prasarana pendukung menjadi sangat penting, karena agar pelanggan mudah menjangkau setiap lokasi yang ada serta mendistribusikan barang atau jasa. Saluran distribusi budidaya ikan nila adalah dari produsen/petani ikan ke pengepul, agen, kemudian restoran dan yang terakhir kepada konsumen akhir.

Untuk biaya pemasaran berupa biaya angkut/transportasi dari lokasi ke supermarket atau pasar sudah termasuk dalam komponen biaya upah sewa sarana angkutan sebanyak satu trip sedangkan satu trip lainnya digunakan untuk sewa sarana transportasi benih ikan (pada awal pemeliharaan tiap periode). Adapun untuk kegiatan panen menggunakan dua jenis tenaga kerja yaitu 1) tenaga panen yang merupakan tenaga kerja tidak terampil, sehingga upah bayangannya sebesar 80% dari upah aktualnya, dan 2) tenaga pengepakan ikan dalam kantong-kantong plastik. Tenaga kerja ini masuk dalam kategori tenaga kerja terampil sebab diperlukan ketrampilan khusus dalam mengepak ikan konsumsi yang masih hidup dalam kantong-kantong plastik yang berisikan oksigen. Ketrampilan khusus dalam hal ini yaitu teknik mengukur volume air dan oksigen yang dimasukkan dalam kantong plastik, cara mengikat kantong dan mengisi oksigen dalam kantong plastik tersebut.

Kelembagaan Pada Agribisnis Budidaya Ikan Nila di Kabupaten Nganjuk

Kelembagaan yang ada didalam usaha budidaya ikan nila yaitu lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyedia dana, lembaga pemasaran, dan lembaga penyuluhan. Untuk memperoleh sarana produksi koperasi sangat berperan dalam hal ini adalah koperasi Mina Sejahtera yang mempunyai beberapa relasi dalam penyediaan sarana tersebut. Sedangkan kegiatan budidaya ikan nila dalam penyediaan sarana produksi selain dari koperasi Mina Nugroho juga mempunyai hubungan kerja/kemitraan dengan pabrik pakan Charun Chokan yang ada di Sidoarjo, sedangkan benih disediakan oleh koperasi Mina Jaya sebagai koperasi sekunder.

Usaha budidaya ikan nila modal berasal dari modal sendiri. Karena pemilik usaha tersebut tergolong didalam kelompok tani, mereka mendapatkan ban-tuan modal yang biasanya disebut dengan penguatan modal dari pemerintah. Lembaga pemasaran adalah badan – badan hukum atau perorangan yang meng-gerakkan arus barang dari produsen kepada konsumen. Lembaga pemasaran didalam usaha budidaya ikan nila adalah pedagang pengepul lokal yang datang langsung ke tempat budidaya ikan  pada saat pemanenan, dari pedangang pengepul, ikan gurami ukuran konsumsi diantar ke restoran dan agen. Sedangkan lembaga pemasaran pada kelompok tani Mina Nugroho adalah agen, dari agen langsung kepada restoran/ pasar dan akhirnya kepada konsumen.

Lembaga penyuluhan yang berperan dalam hal ini adalah pemerintah yaitu sub dinas perikanan Kabupaten Nganjuk di bawah naungan dinas kehewanan Kabupa-ten Nganjuk. Sub dinas perikanan Nganjuk biasanya memberikan penyuluhan satu bulan sekali pada awal bulan kepada para petani ikan melalui kelompok tani Mina Sejahtera untuk usaha ikan gurami dan Mina Nugroho untuk ikan nila.

 

Pengembangan Agribisnis Perikanan

Pada usaha budidaya ikan gurami yang ada di Mina Sejahtera belum ada pengem-bangan usaha secara spesifik, namun masing–masing anggota/pemilik usaha sudah mulai mengembangkan usaha perikanannya dengan komoditi lain yaitu budidaya ikan bawal air tawar yang sekarang ini ikan tersebut meru-pakan komoditi baru yang diharapkan dapat membantu dalam peningkatan pendapatan.

Budidaya ikan nila yang ada di kelom-pok tani Mina Nugroho merupakan salah satu usaha pengembangan, yang sebelumnya komoditi utamanya adalah ikan lele. Dan sekarang ini komoditi lain yang sedang dibudidayakan baik pembenihan maupun pembesaran adalah ikan gurami, ikan mas, ikan bawal air tawar, dan ikan patin. Budidaya ikan nila juga dilakukan di sungai dengan metode keramba. Selain itu ada usaha pema-saran/jual-beli ikan segar seperti ikan ban-deng, wader, gabus dan udang yang dilakukan di kios pemasaran yang ada di samping koperasi Mina Nugroho.

Koperasi perikanan merupakan strategi yang efektif dalam rangka manajemen produksi dan pemasaran, terutama meningkat-kan kesejahteraan petani ikan dengan terdis-tribusinya hasil produksi oleh setiap pelaku agribisnis, sehingga kemitraan yang adil, saling menunjang dan saling menguntungkan antara petani ikan kecil dengan pengusaha ikan yang sudah besar benar–benar terwujud. Namun pengembangan usaha koperasi perikanan sangat tergantung oleh peran serta anggota koperasi perikanan serta pemerintah dengan sistem agribisnis terpadu. Agribisnis terpadu yang dimaksud adalah usaha gabu-ngan yang terdiri dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, pemberian kredit, simpan-pinjam, pengelolaan dana sosial, serta usaha pemasaran dari hasil produksi yang berupa benih dan ikan ukuran konsumsi serta ikan yang dalam bentuk olahan (fillet, bakso, nugget, tepung ikan dan sebagainya).

Peran koperasi perikanan (KUD Mina) adalah untuk menggabungkan, mendukung dan memperlancar sistem produksi, pengo-lahan dan pemasaran hasil produksi. Selan-jutnya untuk pengembangan produk dan manajemen yang lebih efektif, koperasi per-ikanan dengan peran serta pemerintah dalam hal ini adalah dinas perikanan melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada pelaku agri-bisnis terutama petani ikan sebagai produsen, baik mengenai teknologi budidaya, kewirausahan maupun manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik.

 

AGRIBISNIS IKAN BERBASIS NILA

Ikan nila dikenal dengan TILAPIA, merupakan ikan darat yang hidup di perairan tropis. Air bersih, mengalir dan hangat merupakan habitan yang disukai ikan nila. Ikan nila disukai dan dikonsumsi oleh banyak orang karena rasa dagingnya gurih dan memiliki protein yang tinggi. Sayangnya banyak orang kurang menikmati ikannila karena para pembudidaya buru-buru menjual ikannila yang terkadang masih belum layak dikonsumsi karena terlalu kecil, sehingga banyak orang kurang begitu terkesan dengan ikannila yang mereka makan. Kata mereka ikan nila tulangnya lebih banyak dari pada dagingnya. Ini benar karena mereka memakan ikan nila yang masih terlalu kecil sehingga promosi tentang nila kurang baik. Sebenarnya ikan nila dapat besar sampai 1 kg perekor. Namun jarang orang memelihara ikan nila sampai seberat itu. 200 gram perekor sudah pas untuk dikonsumsi.

Ikan nila hanya dapat berkembang pada suhu air yang hangat dan tidak dapat hidup pada air yang dingin berbeda dengan ikan mas dapat hidup dalam air es sekalipun. Ikan nila dikenal dengan ikan tropis karena memang hanya ada di daerah tropis seperti Indonesia, dengan suhu di antara 23-32 derajat Celsius

Ikan nila bertumbuh lebih cepat dari pada ikan mas atau ikan lainnya. Ikan mas tidak bisa dikonsumsi dalam umur 4 bulan dari larva. Tapi ikan nila jika pemeliharaan intensive sudah dapat mencapai berat 200 gram perekor. Sedangkan ikan mas tidak dapat mencapai berat itu dengan cara pemeliharaan yang sama. selain itu reproduksi ikan nila lebih mudah dibandingkan dengan ikan mas. Ikan nila dapat bereproduksi setiap bulan sekali dengan cara alami tanpa usaha yang berarti oleh pembudaya. Berbeda dengan ikan mas jarang bereproduksi secara alami dan harus melalui proses yang lebih panjang dan rumit untuk mendapatkan anak-anak ikan

Ikan nila akan berkembang dengan sendirinya dan akan terus menjadi banyak sampai para pembudidaya kewalahan memelihara ikan ini karena anak ikan terlalu banyak. Ini memberi keuntungan dalam mendapatkan bibit namun dapat menyebabkan kerugian pada pembesaran jika tidak dikelola secara baik.

Keunggulan lainnya dari ikan nila adalah tidak memiliki tulang-tulang halus pada dagingnya tidak seperti ikan mas memiliki tulang-tulang halus dan dapat merusak suasana makan jika tidak hati-hati makan masakan ikan mas. Anak kecil tidak perlu kuatir mengkonsumsi ikan nila karena tidak adanya tulang-tulang halus dalam daging ikan nila. Hal inilah yang akan membuat ikan nila akan semakin disukai banyak orang.

Keuntungan dan Kerugian Dari Metode Jaring Apung (Hapa)

Jaring apung atau net (semacam kelambu nyamuk) biasa digunakan didalam pembesaran ikan didanau atau waduk dan rawa. Jaring yang terbuat dari nylon ini cukup kuat dan tidak mudah sobek. Pembesaran nila di jaring apung umumnya mengunakan jaring berukuran 3*3*1 M3 hingga 9*9*2 M3. Pembuatan jaring apung adalah dengan mengikatkan jaring pada empat sudut tiang bamboo atau kayu. Dengan mengatur kedalam jaring sampai 0.5-1.5 meter dan sebagian jaring harus berada diatas permukaan air setinggi 30 Cm. gunakan pemberat pada paling bawah jaring yang terendam pada empat sudut.

Keuntungan Pemeliharaan Nila Metode Jaring Apung;

  • Produksi ikan lebih tinggi dalam setiap meter persegi
  • Anak ikan atau bibit ikan lebih seragam.
  • Pembibitan ikan lebih mudah ditanggani baik induknya pada saat perkawinan, penetasan dan pemisahan bibit ikan.
  • Mudah dalam penangkapan saat akan panen.
  • Pembesaran ikan berjenjang dan teratur dalam waktu panen.

Kerugian Metode Jaring Apung;

  • pengelolaan lebih rumit dan pengawasan yang lebih sering dilakukan.
  •  Pemberian pakan yang harus teratur untuk setiap jaring yang berbeda jenis dan ukuran ikan.
  • Jaring bisa rusak bila cuaca buruk datang
  • Pemeliharaan lewat jaring mudah di ambil oleh pencuri.
  • Biaya pembuatan sistim jaring lebih mahal dari cara lain.

Tentu dengan mengenal untung dan rugi dalam membudidaya ikan akan lebih mudah menjalankan usaha. pemeliharaan nila cara terbuka dan cara apung menjadi pilihan yang kedua-duanya memberi keuntungan, membutuhkan ketelatenan dalam pengusahakan stok bibit nila dan pakan ikan nila menjadi prioritas utama dalam usaha nila . Dalam  mengatasi hal lain yang akan mungkin muncul.

Perhitungan Keuntungan Usaha Pembenihan Nila

Analisis usaha pembenihan Nila yang digunakan dalam usaha pembenihan sebagai berikut:

  • Modal sendiri
  • Luas kolam 200 M² merupakan lahan sewa. Pertahun Rp.1.200.000
  • Jumlah induk 40 pasang
  • Pembenihan dilakukan selama dua bulan beturut-turut mulai dari penetasan benih sampai benih berukuran dua jari. (Tidak membahas proses perkawinan induk jantan dan betina
  • Diperkirakan satu induk betina dapat menelorkan 1500 sampai 2500 ekor. Contoh perhitungan diambil dari jumlah minimum pembiakan satu induk nila 1500 ekor anak ikan.
  • Pakan buatan sendiri; tepung ikan, jagung, kedelai, bungkil. Semua dalam bentuk tepung yang sudah dihaluskan.
  • Jumlah tenaga kerja satu orang. Gaji harian, perbulan Rp.750.000
  • Perhitungan usaha pembenihan ini adalah perhitungan kasar karena bisa mendapatkan keuntungan yang lebih atau bisa juga lebih rendah dari perkiraan yang direncanakan. Bergantung dari keuletan dan keseriusan anda dalam mengelola usaha pembenihan ini.

Modal yang dibutuhkan dalam usaha pembenihan nila tidak begitu besar dibanding dengan usaha nila lainnya. Jadi, merupakan suatu peluang usaha jika diusahakan. Modal yang diperlukan adalah sarana pembenihan dan biaya operasional.

1)      Modal sarana pembenihan

- Sewa kolam 1/12X1200.000 Rp.200.000
- Alat perikanan seperti jaring, ember dll. Rp.500.000
- Induk Nila 40 pasang @ekor20.000 Rp.800.000
Jumlah: Rp.1.500.000

2)      Modal biaya operational

- Pakan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 500 kg. Rp.2000/kg. Rp.1.000.000
- Satu pekerja selama 2 bulan. perbulan Rp.750.000 Rp.1.500.000
- Alat perikanan seperti jaring, ember dll. Rp.500.000
Jumlah: Rp.3.000.000

 

3)      Perhitungan pendapatan harga jual benih;

= Jumlah induk betina x produksi x Harga jual benih

= 40x1500x200

= 60.000 x 200

= Rp.12.000.000

 

4)      Perhitungan pendapatan harga jual benih dikurangi pengeluaran;

= Pendapatan – Total pengeluaran

= Rp.12.000.000 – Rp.4.500.000

= Rp. 7.500.000

 

5)      Break Event Point (BEP). Kembali modal dalam satuan harga perekor sebagai berikut:

= Total Modal dibagi Total Produksi

=4.500.000 / 40×1500

= 4.500.000 / 60.000

= Rp.75 / ekor (Kembali modal pada harga benih Rp. 75 / ekor dari Rp.200 /ekor)

 

6)      BEP. Kembali modal dalam satuan produksi benih

= Total Modal dibagi Harga Jual Benih @ekor Rp.200

= 4.500.000 / 200

= 22.500 (Kembali modal pada 22.500 ekor benih dari 60.000)

7)      Revenue Cost Ratio (R/C ratio) Perbandingan pendapatan dan pengeluaran.

=Pendapatan dibagi Pengeluaran

= 12.000.000 / 4.500.000

= 2.6

Nilai R/C ratio sebesar 2.6 menunjukan usaha pembenihan sangat menguntungkan jika dilakukan. Dari setiap Rp.1 modal yang dikeluarkan, menghasilkan pendapatan sebesar Rp 2.6

Analisa Keuntungan Usaha Pembesaran Ikan Nila

Pembesaran nila mulai dari benih berumur dua bulan (ukuran jempol) sampai nila berukuran 4-5 kg/ekor selama 4 bulan. perhitungan yang digunakan dalam usaha pembesaran nila sebagai berikut:

  • Luas kolam 1000 m persegi merupakan lahan sewa
  • Benih yang akan dibesarkan sebanyak 60.000 ekor
  • Jumlah tenaga kerja dua orang. Rp 750.000/bln/org
  • Pembesaran ini selama empat bulan berukuran 200-300 g/ekor
  • Total produksi nila konsumsi yang dipanen kurang lebih 10 ton.

 

1)      Modal Sarana Pembesaran

- Kolam 1000 meter persegi selama empat bulan Rp. 1.200.000
- Benih nila 60.000 ekor Rp. 9.000.000
- Alat perikanan Rp. 500.000
Total Rp. 10.700.000

2)      Biaya Operational         

- Pakan buatan sendiri Rp. 42.000.000
- Tenaga kerja dua orang Rp. 6.000.000
- Obat-obatan dan keperluan lain Rp.10.000.000
Total Rp. 58.000.000

Total Pengeluaran=Modal Sarana Pembesaran + Biaya Operational

= Rp. 10.700.000 + Rp. 58.000.000

= Rp. 68.700.000

3)      Pendapatan Sama Dengan Total Produksi Ikan Dikalikan Harga Jual Perkiloran

Pendapatan = Total Produksi x Harga Jual
= 10.000 kg x  Rp 15.000/kg
= Rp.150.000.000

4)      Perhitungan Keuntungan Adalah Pendapatan Dikurangi Pengeluaran

Net Profit = Pendapatan – Total pengeluaran
= Rp.150.000.000 –  Rp. 68.700.000
= Rp. 81.300.000

5)      Break Event Point (BEP). Kembali modal dalam satuan harga perekor sebagai berikut:

BEP. Dalam satuan harga = Total Modal dibagi Total Produksi dalam kg
=68.700.000/ 10.000
= 6870
= Rp.6870 / kg (Kembali modal pada harga nila Rp. 6870 / kg dari Rp.15.000 /kg)

6)      BEP. Kembali modal dalam satuan produksi

= Total Modal dibagi Harga Jual nila /kg Rp.15.000
= 68.700.000 / 15.000
= 4580 (Kembali modal pada 4580 kg nila  dari 10.000kg)

7)      Revenue Cost Ratio (R/C ratio) Perbandingan pendapatan dan pengeluaran.

=Pendapatan dibagi Pengeluaran
= 150.000.000 / 68.700.000
= 2.1

Nilai R/C ratio sebesar 2.1 menunjukan usaha pembesaran nila sangat menguntungkan jika dilakukan. Dari setiap Rp.1 modal yang dikeluarkan, menghasilkan pendapatan sebesar Rp 2.1

Perkiraan pendapatan ini adalah perkiraan kasar, bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung dari pengelolaan dan keuletan pengusaha. perhitungan ini sebagai gambaran bidang usaha pembesaran saja tapi bisa juga untuk usaha lain sebagai contoh dalam menghitung rencana usaha.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Setiap usaha ini dapat memberikan keuntungan kepada penanam modal atau investor. Pengusaha dapat memilih salah satu pada bidang usaha yang cocok dan sesuai dengan modal yang dimilikinya. Minat berusaha sangat mempengaruhi usaha budidaya nila. Jika lebih tertarik pada distribusi yang lebih menguntungkan dan menyukai penjualan langsung sebaiknya jangan pula mengusahakan pembenihan atau pembesaran ikan. Atau  jika berminat dan modal yang cukup, memilih usaha pembenihan dan pembesaran ikan juga sangat menguntungkan. Tipe usaha yang mana yang anda sukai tidak ada batasan sampai dimana pilihan yang anda inginkan.

 

About these ads

One Response to “ANALISIS SISTEM AGRIBISNIS BUDIDAYA IKAN NILA”

  1. arifin ramdani September 10, 2013 at 10:06 pm #

    Apakah hasil yg di dapatkan akan sama perhitungannya,jika pembesaran ikan nila di lakukan pada kolam jaring apung ?berapakah hasil dri penanaman benih ikan nila 300kg selama 4 bulan..jika menggunakan pakan pelet sebanyak 3000kg ?mohon penjelasan,terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: