KONTRIBUSI DAN STATUS WANITA DALAM USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG

19 Apr

Urip Santoso dan Kususiyah
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jln. Raya Kandang Limun, Bengkulu

ABSTRAK
Pemberdayaan wanita di sektor usaha sapi potong adalah sangat penting untuk meningkatkan efisiensi produktivitas sapi potong. Peneltian ini bertujuan untuk mengevaluasi kontribusi dan status wanita dalam usaha sapi potong. Penelitian ini dilakukan di dua desa di kecamatan Kota Argamakmur, Bengkulu Utara dan masing-masing desa dipilih responde yang mempunyai sapi potong skala kecil (1-5 ekor) dan skala menengah (6-10 ekor). Darisetiap desa diambil responder sebanyak 50 keluarga dimana pada setiap desa terbagi atas 25 responden usaha skala kecil dan 25 responden usaha skala menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi wanita pada usaha sapi potong cukup tinggi. Jam kerja
wanita pada usaha sapi potong untuk skala kecil adalah 1,177 jam per hari, sedangkan pada skala menengah adalah 2,388 jam per hari. Sementara jam kerja pria untuk skala kecil adalah 2,355 jam sedangkan pada skala menengah adalah 2,655 jam. Walaupun kontribusi wanita cukup besar, namun statusnya dalam usaha sapi potong masih belum dianggap sebagai mitra kerja. Kegiatan koperasi dan penyuluhan dominasi pria juga masih sangat besar. Kegiatan rumah tangga masih didominasi oleh wanita. Jam kerja wanita pada rumah tanggal untuk skala kecil adalah 5,889 jam per hari sementara pria hanya 0,282 jam. Pada skala menengah, jam kerja wanita pada rumah tangga adalah 6,402 jam sedangkan pria hanya 0,087 jam. Yang menarik adalah walaupun jam kerja wanita pada usaha sapi potong skala menengah adalah relatif sama dengan pria, namun jam kerjanya dalam rumah tangga tidak berkurang. Ini
menunjukkan bahwa jam kerja wanita adalah lebih besar daripada pria. Pola pengambilan keputusan dalam rumah tangga juga sangat didominasi oleh pria terutama pada hal-hal yang dianggap penting, sedangkan untuk kegiatan rutin rumah tangga keputusan diambil oleh
wanita. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontribusi wanita pada usaha sapi potong cukup besar, namun statusnya masih belum dianggap sebagai mitra kerja.

Kata kunci: kontribusi wanita, status wanita, usaha sapi potong

Selengkapnya

STRATEGI PENGEMBANGAN AYAM KAMPUNG DI KELURAHAN DUSUN CURUP KECAMATAN CURUP UTARA KABUPATEN REJANG LEBONG ( USAHA PETERNAKAN AYAM KAMPUNG H.ABDUL HALIL )

4 Jan

Oleh : Meily Haryani / E2DO12011

 PENDAHULUAN

I.1.       Latar Belakang        

 Pemenuhan kebutuhan protein hewani dari produk unggas harus diimbangi dengan peningkatan populasi ternak unggas,sehingga produk ternak unggas mampu memenuhi kebutuhan protein hewani seluruh masyarakat di Kabupaten Rejang Lebong. Sampai saat ini masyarakat di Kabupaten Rejang Lebong cukum mampu mengkonsumsi ternak unggas ini, dan ternak unggas ini terutama ayam kampung dapat meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Rejang Lebong dari sektor peternakan unggas.

 Ternak ayam kampung/ ayam lokal bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan merupakan komoditi andalan yang berpotensi dan berpeluang hanya penanganan dan pengembangan ternak unggas ayam kampung/ayam lokal ini masih bersifat tradisional. Kalau dibandingkan dengan ayam ras, beternak ayam kampung/ayam lokal ini cukup rumit selain membutuhkan lokasi atau tempat yang agak luas juga pakan nya.

 Perkembangan ayam kampung/ayam lokal cenderung lebih lambat dibandingkan dengan ayam ras pedaging yang mampu panen dalam waktu 40 harisedangkan ayam kampung/ayam lokal membutuhkan waktu 6 – 7 bulan.Dan juga untuk pengembangan ayam kampung/ayam lokal ini beberapa peterbak mengaku kesulitan dalam perolehan bibit yang baik dan berkualitas karena pada bulan awal ternak resiko kematian mencapai 10% – 20%dan juga penyakit , hama dan juga penurunan kualitas yang diakibatkan kekeliruan dalam proses produksi.

             Namun jika strategi pemeliharaan ayam kampung/ayam lokal dapat dicermati dengan baik maka usaha beternak ayam kampung/ayam lokal ini dapat memberikan keuntungan yang tinggi karena cukup diminati masyarakat. Karena banyak masyarakat yang mengkonsumsi ayam kampung dibandingkan ayam ras pedaging dikarenakan ayam kampung /ayam lokal dagingnya lebih manis dan gurih dibandingkan dengan ayam ras pedaging.

            Meskipun potensi budidaya ayam kampung/ayam lokal sangatlah menarik namun sejumlah tantangan bisa menjadi penghambat usaha yang bisa mengubah potensi keuntungan menjadi kerugian.

Untuk itu perlu dilakukan analisa terhadap kekuatan (Strenght ),kelemahan (Weakness ), peluang ( Oppurtunities )dan ancaman ( Threat ) yang dapat terjadi dalam usaha peternakan ayam kampung / ayam lokal sehingga dapat disusun strategi pengembangan agribisnis peternakan ayam kampung / ayam lokal. Continue reading

ANALISIS AGRIBISNIS PENGEMUKAN SAPI POTONG DI DESA TELADAN KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG

12 Jun

 

(Di Lihat Dari Segi Curahan Tenaga Kerja)

Oleh: EDDY SILAMAT

PENDAHULUAN

Usaha yang telah dijalankan pemerintah dengan mengimpor sapi potong, telah meningkatkan populasi yang cukup pesat. Berbagai tingkat skala  usaha ternak sapi potong dapat dijumpai, mulai dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat modern.  Keanekaragaman tersebut akibat manifestasi dari perbedaan dalam hal motivasi, teknologi, modal dan orientasi ekonomi peternak (Adiwilaga, 1982).

Usaha peternakan sapi potong di Indonesia mempunyai masa depan yang cukup cerah bagi masyarakat yang mau mengusahakan peternakan sapi potong. Menurut pernyataan Dirjen peternakan tahun 1999 untuk memenuhi permintaan akan daging sapi, Indonesia harus mengimpor dari luar negeri sebanyak 80% sedangkan dari dalam negeri hanya 20% (Muljana., 1985).

Pada peternakan sapi potong rakyat, sebagian usaha tersebut berada pada kondisi yang serba terbatas dengan skala usaha yang relatif kecil. Walaupun demikian kedudukan ekonomi usaha ternak sapi potong ini bagi petani besar artinya, sebab kehadiran usaha ternak selain dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga dan limbah usaha tani, serta kotoran sapi sebagai pupuk kandang yang utama adalah mendapatkan uang tunai harian. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak, usaha ini cukup memadai untuk dikembangkan (Atmadilaga, 1975). Continue reading

PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR DI KABUPATEN LEBONG

13 May

Oleh: FENNY IRMANITA (E2D011107)

Latar Belakang

Kabupaten Lebong terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahyang di Provinsi Bengkulu. Pusatpemerintahan Kabupaten Lebong berada di Tubei tepatnya di Kelurahan Tanjung Agung Kecamatan Pelabai.

Salah satu sektor yang menjadi unggulan Kabupaten Lebong adalah ikan air tawar dalam hal ini ikan mas. Hal ini dikarenakan kualitas produksi ikan mas dari Kabupaten Lebong terjaga baik.

Jenis usaha perikanan di Kabupaten Lebong dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu budidaya, penangkapan dan pembenihan. Jika dilihat perkembangan produksi dalam kurun waktu 2010-2011 maka 3 jenis usaha tersebut secara umum mengalami peningkatan, baik dari segi luas areal usaha maupun produksi yang dihasilkan. Untuk jenis usaha budidaya merupakan penghasil tertinggi tahun 2011 produksinya meningkat 19 persen dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 2249,8 ton dengan peningkatan luas 77 Hektar. Untuk tingkat kecamatan Kecamatan Bingin Kuning, Kecamatan Lebong Sakti dan Kecamatan Uram Jaya adalah 3 kecamatan dengan luas areal usaha perikanan terluas di Kabupaten Lebong

Ikan mas (Cyorinus carpio, L.) Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak, merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakan dan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di Cina, para petani telah membudidayakan sekitar 4000 tahun yang lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun yang lalu. Sejumlah varietas dan subvarietas ikan mas telah banyak dibudidayakan Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi dan ikan hias. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan masyang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten danMajalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya. Continue reading

ANALISIS SISTEM AGRIBISNIS BUDIDAYA IKAN NILA

10 May

OLEH : JHOY SHANDI (E2D011112)

Latar  Belakang

Perikanan budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan. Menurut Made L. Nurjana (2006) besarnya kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi, pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun 2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton.

Permintaan pasar dalam negeri untuk kebutuhan hasil perikanan semakin meningkat dari tahun ke tahun, keadaan ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat yang sudah cukup mengerti tentang besarnya manfaat kebutuhan gizi dan kesehatan guna meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan pada anak-anak dan mengurangi gejala kekurangan gizi pada manusia. Dukungan pemerintah dalam menunjang terpenuhinya kebutuhan bibit berkualitas memang telah ada akan tetapi belum mencukupi sehingga bibit yang dipakai masih memiliki kualitas rendah yang mengakibatkan produktivitas tidak masksimal. Harga pakan yang kianmeroket juga menjadi permasalahan bagi petani ikan karena sangat pakan memiliki komposisi 65% dari kebutuhan modal, sedangkan harga jual sangat berfluktuasi yang dapat merugikan bagi petani. Continue reading

Dasasila Peternakan dalam Pembangunan Peternakan di Indonesia

2 May

Oleh: Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D

Jurusaan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Jalan Raya WR Supratman, Bengkulu

 

Peternakan diakui sebagai salah satu komoditas pangan yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi devisa negara dan harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Pada kenyataannya, target kebutuhan protein hewani asal ternak sebesar 6 g/kapita/hari masih jauh dari terpenuhi. Ada sedikitnya sepuluh permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam mengembangkan peternakan yaitu pemerataan dan standar gizi nasional belum tercapai, peluang ekspor yang belum dimanfaatkan secara maksimal, sumber daya pakan yang minimal, belum adanya bibit unggul produk nasional, kualitas produk yang belum standar, efisiensi dan produktivitas yang rendah, sumber daya manusia yang belum dimanfaatkan secara optimal, belum adanya keterpaduan antara pelaku peternakan, komitmen yang rendah dan tingginya kontribusi peternakan pada pencemaran lingkungan.

Bahkan, akhir-akhir ini produk ternak  dari luar negeri semakin membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang lebih murah dan mutu yang lebih baik. Hal ini sangat sulit untuk dihindari, karena adanya kecenderungan adanya perdagangan bebas dan Indonesia mau tidak mau harus menghadapinya. Hal ini tentu saja mengancam perkembangan peternakan di Indonesia.

Untuk mengantisipasi terpaan dari luar, peternakan di Indonesia harus mengubah strategi agar mampu bertahan dan bahkan mampu bersaing dengan produk luar baik dalam memperebutkan pasar nasional maupun pasar internasional.

Selengkapnya

ANALISIS AGRIBISNIS PENGEMUKAN SAPI POTONG DI DESA TELADAN KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG (Di Lihat Dari Segi Curahan Tenaga Kerja)

2 May

PENDAHULUAN

Usaha yang telah dijalankan pemerintah dengan mengimpor sapi potong, telah meningkatkan populasi yang cukup pesat. Berbagai tingkat skala  usaha ternak sapi potong dapat dijumpai, mulai dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat modern.  Keanekaragaman tersebut akibat manifestasi dari perbedaan dalam hal motivasi, teknologi, modal dan orientasi ekonomi peternak (Adiwilaga, 1982).

Usaha peternakan sapi potong di Indonesia mempunyai masa depan yang cukup cerah bagi masyarakat yang mau mengusahakan peternakan sapi potong. Menurut pernyataan Dirjen peternakan tahun 1999 untuk memenuhi permintaan akan daging sapi, Indonesia harus mengimpor dari luar negeri sebanyak 80% sedangkan dari dalam negeri hanya 20% (Muljana., 1985).

Pada peternakan sapi potong rakyat, sebagian usaha tersebut berada pada kondisi yang serba terbatas dengan skala usaha yang relatif kecil. Walaupun demikian kedudukan ekonomi usaha ternak sapi potong ini bagi petani besar artinya, sebab kehadiran usaha ternak selain dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga dan limbah usaha tani, serta kotoran sapi sebagai pupuk kandang yang utama adalah mendapatkan uang tunai harian. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak, usaha ini cukup memadai untuk dikembangkan (Atmadilaga, 1975).

Mengingat peternakan sapi potong termasuk usaha dengan penanaman modal yang tinggi per tenaga kerjanya, bila dibandingkan dengan kebanyakan usaha lain. Hal ini menuntut penggunaan yang maksimum ingin dicapai. Produksi daging sapi tahunan yang tinggi merupakan hasil dari perhatian yang dicurahkan setiap hari terhadap segala hal yang berhubungan dengan breeding, feebding, dan management.  Bila secara praktis teknik tersebut diterapkan pada suatu kelompok dalam jumlah yang cukup, hasilnya merupakan pendapatan yang memuaskan (Foleyetal, 1973).

Selengkapnya

ANALISIS SISTEM AGRIBISNIS ITIK (anas spp) Di Kabupaten Lebong

2 May

 

Oleh :  MARTHALINDA DWI PUTRI.  SP (E2DO11115)

I.  PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

Itik ( Anas spp) merupakan salah satu jenis unggas di Indonesia yang dibudidayakan oleh masyarakat seperti halnya ayam. Di Indonesia selain itik dikenal juga unggas sejenis yang dikenal dengan sebutan bebek atau entok.Itik berasal dari Amerika yang kemudian berkembang dibeberapa negara termasuk Indonesia. Itik di Indonesia awalnya berasal dari Jawa. Sementara di Inggris dikenal dengan nama Indian Runner (Anas javanica). Berbagai jenis itik lokal dikenal penamaannya berdasarkan tempat pengembangannya, wilayah asal dan sifat morfologis seperti itik Alabio (dari Kalimantan Selatan), itik Tegal, itik Mojosari dan Itik Maros dll. Pada umumnya tujuan pemeliharaan itik adalah untuk menghasilkan telur. Masyarakat beternak itik dengan skala kecil atau  peternakan itik rakyatatau itik kampung, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Ternak itik merupakan salah satu komoditi unggas yang mempunyai peran cukup penting sebagai penghasil telur dan daging untuk mendukung ketersediaan protein hewani yang murah dan mudah didapat. Di Indonesia, itik umumnya diusahakan sebagai penghasil telur namun ada pula yang diusahakan sebagai penghasil daging. Peternakan itik didominasi oleh peternak dengan sistem pemeliharaan yang masih tradisional di mana itik digembalakan di sawah atau di tempat-tempat yang banyak airnya, namun dengan cepat mengarah pada pemeliharaan secara intensif yang sepenuhnya terkurung atau memiliki kandang dan luasan lahan terbatas. Continue reading