TANTANGAN DAN STRATEGI AGRIBISNIS SAPI POTONG

15 Apr

 

Oleh: DARWAN GINTING (NPM E2D011105)

I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peningkatan pendapatan masyarakat  akan membuka peluang bisnis yang lebih besar khususnya bagi bisnis komoditi yang bersifat elastis terhadap perubahan pendapatan Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber  protein hewani semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat.

Sapi potong merupakan komoditas unggulan di sektor peternakan, karena pada tahun  2003 saja telah mampu menyumbang 66 % atau lebih 350.000 ton dari total produksi daging dalam negeri yang sebesar lebih 530.000 ton (Aryogi dan Didi, 2007). Namun demikian, kemampuan produksi daging sapi dalam negeri tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan nasional, sehingga menyebabkan impor sapi hidup, daging sapi maupun jeroan sapi masih terus tinggi.

Sebagai gambaran pentingnya peternakan sapi di Indonesia adalah masih tergantungnya dari suplai Luar Negeri. Untuk memenuhi kebutuhan daging serta sapi bakalan yang akan digemukkan oleh feedloter sampai saat ini masih tergantung pada impor. Data Asosiasi Produsen Daging dan Feedloter Indonesia (APFINDO) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 200.000 ekor sapi bakalan per tahun diimpor dari luar negeri, bahkan sumber lain menyebutkan sampai mencapai 400.000 ekor per tahun.

Ternak sapi memiliki peran penting dan peluang pasar yang menggembirakan karena merupakan ternak unggulan penghasil daging nasional. Di beberapa daerah, pemeliharaan sapi dilakukan secara terpadu dengan tanaman yang dikenal dengan sistem integrasi ternak-tanaman.

Indonesia sebagai daerah tropis  dengan potensi sumberdaya alam yang melimpah sangat mendukung  untuk pengembangan peternakan sapi potong, hanya saja pemeliharaan sapi umumnya diusahakan secara tradisional atau sambilan sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu, upaya untuk memberdayakan petani-peternak sapi  penting dilakukan karena memelihara sapi didominasi  oleh petani-peternak . Pengembangan usaha ternak perlu ditunjang dengan kebijakan pemerintah yang relevan sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan petani-peternak.

Kebijakan pemerintah melalui  pengembangan agribisnis  sapi potong pada masyarakat diarahkan untuk mencapai swasembada daging dan mengurangi ketergantungan terhadap import sapi potong.

1.2.Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah yang diangkat dalam makalah ini meliputi:

a.       Bagaimana tingkat permintaan daging sapi di Indonesia

b.      Bagaimana  perkembangan produksi dan impor sapi potong.

c.       Bagaimana Kinerja Agribisnis Sapi Potong

d.      Bagaimana Strategi dan Implementasi pembangunan Agribisnis Sapi Potong.

 

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:

a.       Mengetahui tingkat permintaan daging sapi di indonesia.

b.      Mengetahui perkembangan produksi dan import sapi potong.

c.       Mengetahui Kinerja agribisnis sapi potong

d.      Mengetahui Strategi dan Implementasi pembangunan Agribisnis sapi potong

II.HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1. Tingkat Permintaan Daging Sapi

            Usaha peternakan sapi potong pada saat ini masih tetap menguntungkan. Pasalnya permintaan pasar akan daging sapi masih terus mengalami peningkatan. Selain di pasar domestik, permintaan daging sapi di pasar luar negeri juga cukup tinggi. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor daging sapi ke Malaysia.Konsumsi daging sapi di sana cenderung mengalami peningkatan karena bergesernya tradisi mengkonsumsi daging kambing ke daging sapi atu kerbau pada saat perhelatan keluarga dan perayaan hari besar lainnya.

            Indonesia dengan jumlah penduduk diatas 220 jiwa, membutuhkan pasokan daging sapi dalam jumlah cukup besar. Sejauh ini peternakan domestik belum mampu memenuhi permintaan daging dalam negeri.Timpangnya antara pasokan dan permintaan ternyata masih tinggi.Pemerintah (Kementrian Pertanian) mengakui masalah utama usaha sapi potong di Indonesia terletak pada suplai yang selalu mengalami kekurangan setiap tahunnya. Sementara laju pertumbuhan konsumsi dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju pertumbuhan konsumsi dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju penngkatan populasi sapi potong. Pada gilirannya, pada kondisi seperti ini memaksa indonesia untuk selalu melakukan impor, baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging.

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan 2010, konsumsi daging sapi nasional  sebesar 1,27 kg per kapita per tahun, Ditjen Peternakan Kementan sebesar 1,7 kg per kapita per tahun, Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) 2,1 kg per kapita per tahun dan  Asosiasi Feedloter Indonesia (Apfindo) 2,09 kg per kapita per tahun.Selanjutnya Menurut data Susenas (2002) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi daging sapi dan jeroan masyarakat Indonesia sebesar 2,14 kg/kapita/tahun.Tingginya tingkat konsumsi sapi di indonesia disebabkan oleh 1) jumlah penduduk penduduk selalu meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,49 % per tahun; 2) konsumsi daging per kapita mengalami peningkatan dari waktu ke waktu sebesar 0,1 kg/kapita/tahun.

            Untuk melihat kebutuhan dan proyeksi kebutuhan daging sapi secara Nasional dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

Tabel 1. Proyeksi Kebutuhan Daging sapi Tahun 2000,2010 dan Tahun 2020.

NO

Tahun

Jumlah Penduduk

(Jiwa)

Konsumsi Daging kg/kapita/tahun

Produksi Daging  (000 ton)/tahun

Pemotongan (ekor/Tahun).

Prosentase kenaikan

(%)

1.

2000

206 Juta

1,72 kg

350,7

1,75 juta

2.

2010

242,4 juta

2,72 kg

654,4

3,3 juta

88,6

3.

2020

281 juta

3,72 kg

1,04 juta

5,2 juta

197

  Sumber data  Susenas (2002)

            Dari data tersebut diatas diperkirakan populasi sapi potong pad tahun 2009 hanya mampu memasok 60 % dari total kebutuhan daging dalam negeri.Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan karena suatu saat akan terjadi kondisi dimana kebutuhan daging sapi dalam negeri sangat tergantung kepada import.Dengan demikian, ketergantungan tersebut tentu akan mempengaruhi harga sapi lokal.Namun disisi lain dengan adanya kebutuhan akan daging yang semakin meningkat, membuka peluang usaha dalam Agribisnis sapi potong 

 

2.3.Perkembangan Produksi dan  Import Daging Sapi Tahun 2005-2009

Untuk mengetahui bagaimana perkembangan produksi dan impor daging sapi selama periode tahun 2005-2009 disajikan data pada Tabel 2. Produksi daging sapi lokal selama kurun waktu 2005 sampai dengan 2009 masih berfluktuasi. Peningkatan produksi daging sapi lokal yang tertinggi terjadi pada tahun 2006 (19,2%), lalu terjadi penurunan pada tahun 2007 sebesar -18,8 % dan selanjutnya mengalami peningkatan lagi sampai dengan tahun 2009 dengan rata-rata peningkatan sebesar 9,1 %. Sementara itu impor daging, baik yang berasal dari sapi bakalan dan daging, selama kurun waktu 2005 sampai dengan 2008 mengalami peningkatan rata-rata 10,6 % dan pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 5 % dibanding tahun 2008.

 

Tabel.2. Perkembangan Produksi dan daging Sapi Import Tahun 2005-2009

Uraian

Tahun

Eksport

2005

2006

2007

2008

2009

(000 ton)

Prudoksi Lokal

 

Import

217,4

259,5

210,8

233,6

250,8

Bakalan

113,3

119,2

124,8

150,4

142,8

Daging

56,2

62,0

64,0

70,0

70,0

Total Produksi lokal dan import

330,7

378,7

335,6

384,1

393,6

   Sumber :Blue Print PSDS Tahun 2014  (2010)

 

Berdasarkan Tabel 2., volume impor (bakalan dan daging) yang terjadi selama periode tahun 2005-2009 adalah sebagai berikut : pada tahun 2005 (34 %), 2006 (31 %), 2007 (37 %),2008 (39 %), dan 2009 (36 %) dari penyediaan total daging sapi di pasar domestik.

Hal yang menarik untuk dikaji adalah mata rantai pemasaran daging impor, dimana pola distribusinya dapat melalui berbagai alur, yakni secara langsung dari importir ke hotel atau restoran tertentu atau dapat juga dari importir ke distributor terlebih dahulu, kemudian didisitribusikan ke hotel,supermarket, meatshop dan pedagang pengecer di pasar tradisional. Segmentasi pemasaran daging berdasarkan kualitas pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : (i) Prime cut meat untuk hotel berbintang, cafe, catering dan supermarket; (ii) Secondary cut meat untuk meatshop, pasar tradisional, rumah tangga; (iii) Variation meat khususnya jenis trimming meat dominan digunakan untuk bahan baku industri pengolahan daging seperti kornet, sosis, bakso;(iv) Offal digunakan pada industri pengolahan dan industri kuliner tradisional seperti konro,coto, rujak cingur, sop buntut, dan bakso. Produksi daging dalam negeri berasal dari berbagai rumah potong hewan dan tempat pemotongan hewan. Walaupun demikian sebelum memasuki RPH dan TPH ternak hidup berasal dari peternak yang kemudian dibeli oleh belantik kampung sebagai pengepul. Dari belantik kampung ini langsung masuk ke pasar hewan atau dibeli oleh pedagang besar antar daerah. Selanjutnya pedagang besar antar daerah tersebut ternak diperdagangkan dengan memperoleh margin keuntungan. Pada belantik kampung ternak dibawa ke pasar hewan dan terjadi transaksi dengan para pembeli atau jagal yang selanjutnya oleh jagal dibawa ke rumah potong hewan untuk dipotong. Dari RPH maupun TPH tersebut daging masuk kepada pengecer daging dan ke pasar-pasar tradisional yang akan dibeli oleh para konsumen hari itu juga (Kementerian Pertanian RI, 2010). Penulis berpendapat bahwa perlunya pencermatan terhadap pengaturan volume daging impor, penulis memprediksi jika volume daging impor dikurangi sampai ke batas 50 % saja,  kebutuhan dalam negeri masih dapat dipenuhi, walaupun akan terjadi kenaikan harga daging sapi di pasar domestik (yang justru menguntungkan peternak). Marjin usaha yang diperoleh peternak sapi lokal akan memberikan stimulasi pada perkembangan produksi sapi daging lokal selanjutnya. Selama ini ketergantungan daging dan sapi bakalan impor untuk memenuhi konsumsi domestik seolah “berjalan apa adanya”, tanpa upaya keras dari kementerian pertanian untuk 2 (dua) pekerjaan yang penting dalam pembangunan agribisnis daging sapi di Indonesia,yakni penguatan sistem pembibitan yang benar, efektif dan efisien (breeding) dan pengembangan usaha perkembangbiakan sapi (cow calf operation).Harus diakui bahwa peternak sapi berskala kecil yang selama ini menjadi basis penyediaan daging sapi domestik di Indonesia, hanya sedikit peternak yang berskala menengah atau besar yang beroperasi melakukan agribisnis sapi potong, dalam jumlah sedikit itu pula, mereka umumnya terbatas pada kegiatan fattening, yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan kegiatan breeding dan cow calf operation . Di sisi lain, profil peternakan rakyat berskala kecil umumnya berstatus keeper atau user, yang seharusnya mereka perlu diberdayakan sebagai meat produce.

 2.3. Kinerja Agribisnis Sapi Potong  Indonesia

            Pengembangan agribisnis sapi Potong di Indonesia pada masa lalu sangat minim.Tulang punggung dalam penyediaan daging sapi di indonesia hampir seluruhnya ditangan peternak rakyat yang umumnya skala kecil,hanya sebagai usaha sambilan atau cabang usaha  dan tersebar mengikuti penyebaran penduduk.Selain investasi pemerintah dalam pembangunan sarana dan prasarana agribisnis sapi potong,hampir tidan ada investasi swasta (pengusaha swasta) dalam agribisnis sapi potong baru muncul tahun  1990 pada usaha penggemukan dan perdagangan daging sapi,setelah pemerintah membuka import sapi bakalan secara terbatas.

            Dalam upaya mendorong pertumbuhan populasi sekaligus untuk perbaikan mutu genetik sapi potong, maka pemerintah telah memasyarakatkan teknologi inseminasi buatan.Namun karena keterbatasan yang dimiliki pemerintah,jangkauan inseminasi buatan masih terbatas.Hasil evaluasi sosial ekonomi pelaksanaan inseminasi buatan sapi potong di beberapa wilayah seperti lampung,jawa barat, dan jawa timur menunjukkan bahwa realisasi inseminasi buatan sapi potong masih sekitar 30-50 persen dari potensi akseptor (PSP-IPB,1986).Selain itu pada wilayah-wilayah pelayanan inseminasi buatan tersebut, ditemukan bahwa efisiensi reproduksi dari sapi potong  masih relatif rendah (sekitar 60 persen dari potensi efisiensi reproduksi).Hal ini disebabkan karena berbagai faktor seperti keterlambatan diagnosa birahi dari peternak, gangguan organ reproduksi,kualitas pakan yang rendah, dan kesalahan teknis dari para inseminator.

            Rendahnya efisiensi reproduksi dan terbatasnya jangkauan inseminasi buatan menyebabkan pertumbuhan populasi sapi potong di indonesia rendah.Akibatnya laju pertumbuhan produksi daging sapi domestik juga relatif lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan permintaan daging sapi domestik.Ketidak seimbangan ini telah ikut menyebabkan  relatif mahalnya harga sapi di pasar domestik.

            Dalam keadaan demikian, pemerintah menghadapi masalah yang dilematis antara membela konsumen atau produsen.Dari sudut kepentingan konsumen, seharusnya pemerintah membebaskan import daging atau sapi bakalan, namun harus mengorbankan kepentingan agribisnis sapi potong domestik.Bila pemerintah melarang import daging dan sapi bakalan, harga daging sapi di pasar domestik akan melambung tinggi, sehingga merugikan konsumen.Tampaknya  pilihan yang dilakukan oleh pemerintah adalah berpihak pada kepentingan agribisnis sapi potong domestik sembari mencegah kenaikan harga daging sapi yang terlalu tinggi,dengan cara mengimport daging sapi dan sapi bakalan secara terkontrol.

Secara teoritis,relatif mahalnya harga daging sapi di pasar domestik akan merangsang produsen sapi potong untuk meningkatkan produksinya.Fenomena ekonomi ini tampaknya tidak berjalan pada peternak rakyat.Hal ini banyak disebabkan karena usaha sapi potong bagi peternak rakyat masih bersifat sambilan dan cenderung berfungsi sebagai tabungan dan atau status sosial.Pada Pola dan peran usaha sapi potong peternak rakyat yang pengambilan keputusan bagi peternak rakyat,melainkan lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan non ekonomi.

Dengan kinerja agribisnis sapi potong yang demikian ,jelas sulit diharapkan menjadi andalan penyedian daging sapi dalam perdagangan bebas . Kalau kondisi agribisnis sapi potong yang demikian tetap berlangsung,dikhawatirkan akan terdersak oleh daging sapi import.Sebaliknya,bila pengadaan daging sapi dipenuhi sebagian besar oleh import akan menghadapi resiko dan mengorbankan devisa yang besar.Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah sekitar 220 juta jiwa dan konsumsi daging 2 kg saja, maka kita memerlukan sekitar 4 juta ekor sapi potong setiap tahunnya.Bila separuhnya saja dipenuhi oleh import,maka seluruh produksi sapi potong dari australia harus kita import.jelas hal ini mengorbankan devisa negara yang cukup besar.Selain itu untuk memperoleh sekitar 2 juta ekor sapi setiap tahun dari pasar internasional tidaklah mudah dimasa yang akan datang. Oleh sebab itu,pilihan terbaik adalah mempercepat pertumbuhah agribisnis sapi potong di Indonesia.

Swasembada Daging Sapi sudah ditetapkan sejak tahun 2005, namun belum tercapai alias gagal, kemudian pemerintah pun mencanangkan Swasembada Daging Sapi 2010, juga belum tercapai, sehingga pemerintah harus mencanangkan kembali program Swasembada Daging Sapi 2014, sebagai bentuk indikasi pencapaian arah revitalisasi peternakan. Berdasarkan Tabel 2. volume impor (bakalan dan daging) diproyeksikan pada tahun 2010 (29,8 %), 2011 (24,5 %), 2012 (19,5 %), 2013 (14,7 %), dan 2014 (10 %) dari penyediaan total daging sapi di pasar domestik. Hal yang menarik untuk dikaji adalah bahwa proyeksi tersebut berstatus “more likely” atau dianggap paling realistis, jadi dalam hal ini predikat swasembada daging yang hendak dicapai tahun 2014, masih didukung dengan toleransi impor sebesar 10 %.

 

Tabel 3. Proyeksi penyediaan Daging Sapi tahun 2010-2014

Uraian

Tahun

Eksport

2010

2011

2012

2013

2014

(000 ton)

Produksi Lokal

283           I  316,1         I 349,7         I 384,2       I 420,4

Import

120,1

102,4

84,7

66,3

46,7

Bakalan

46,4

35,2

26,8

20,3

15,4

Daging

73,8

67,2

57,9

46,0

31,2

Total Produksi lokal dan import

403,1

418,6

434,4

450,5

467,0

Persentase Import

29,8 %

24,5 %

19,5 %

14,7 %

10,0 %

Sumber :Blue Print PSDS Tahun 2014  (2010)

 

Berdasarkan data impor yang terjadi sampai dengan semester pertama tahun 2010, alokasi impor daging yang direncanakan 73,8 ribu ton, terpaksa harus ditambah menjadi 78,8 ribu ton.Berdasarkan data realisasi impor pada Tahun 2010, bahwa koreksi sasaran swasembada daging sapi tahun 2014 sebenarnya sudah terjadi pada tahun 2010, hal ini menjadi isyarat penting terhadap kemampuan pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014.

Hal yang paling ironis adalah bila realisasinya justru mengikuti skenario “pesimistic”, dimana Skenario untuk mencapai Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 harus disertai dengan terobosan yang benar-benar dapat dijalankan oleh Kementerian Pertanian menyangkut penyediaan bakalan/ daging sapi lokal, peningkatan produktivitas dan reproduktivitas sapi lokal, pencegahan pemotongan sapi betina produktif, penyediaan bibit sapi dan pengaturan stock daging sapi di dalam negeri, bila tidak dijalankan maka ketergantungan terhadap daging sapi impor justru akan semakin membengkak.

 

2.4 Strategi dan Implementasi Pembangunan  Sistem Agribisnis Sapi Potong.

            Kegiatan ekonomi berbasis sapi potong tidak terlepas dari paradigma lama, bahwa pembangunan peternakan masih dilihat secara terbatas  yaitu sebagai usaha peternakan (on-farm), sehingga usaha pembangunan peternakan juga hanya terbatas pada usaha peternakan. Cara pembangunan peternakan yang terbatas itu, tidak sesuai lagi dengan perkembangan peternakan yang ada, dimana sebagian besar sarana produksi peternakan berasal dari luar usaha peternakan dan produksinya berorientasi pasar. Oleh sebab itu,  untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis sapi potong sebagai suatu sistem agribisnis.

            Sistem Agribisnis sapi potong dapat dibagi atas 4 (empat) subsistem, yaitu : (1) subsistem agribisnis Hulu (upstream off-farm agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi (produksi, perdagangan) yang menghasilkan sarana produksi peternakan seperti pembibitan sapi potong, usaha/industri pakan, industri obat-obatan, industri inseminasi  buatan, beserta kegiatan perdagangannya ; (2) subsistem agribisnis budidaya sapi potong (on farm agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi peternakan  untuk menghasilkan komoditi peternakan primer (ternak potong). Ketiga, subsistem agribisnis hilir (down stream agribusiness)  yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas primer menjadi produk yang siap guna (ready for use), siap saji (ready to cook) dan siap konsumsi ( ready eat), beserta perdagangannya seperti industri pemotongan sapi ,industri pengalengan daging sapi ; (4) subsistem jasa penunjang (supporting institution), yaitu kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis sapi potong seperti perbankan,transportasi, penyuluhan, lembaga penelitian dan pendidikan.

            Melalui sistem agribisnis sapi potong yang dilakukan demikian, maka pembangunan  ekonomi berbasis sapi potong adalah membangun keempat subsistem tersebut secara simultan dan konsisten. Hal ini perlu dilakukan karena daya saing agribisnis sapi potong tidak hanya ditentukan  oleh satu subsistem saja, akan tetapi ditentukan oleh keseluruhan subsistem tersebut. Sebagai contoh ternak potong yang berkualitas tinggi yang dihasilkan dari agribisnis hulu, tidak akan bermanfaat optimal bila tidak disertai dengan teknologi  penggemukan  (fattening ) yang baik pada budidaya dan teknologi pengolahan dan cara pemasaran yang baik pada agribisnis hilir dan sebaliknya.Contoh lain kualitas kulit sapi yang bermutu tinggi, tidak mungkin diperoleh bila tidak didukung teknik pemotongan  dan teknik pemeliharaan sapi yang baik. 

            Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka diperlukan kebijakan dan strategi dan program  pengembangan agribisnis sapi potong di Indonesia mulai subsistem agribisnis hulu,subsistem budidaya,subsistem hilir dan subsistem penunjang lainnya sehingga suatu saat ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi bahkan dapat mencapai swasembada daging.

            Implementasi untuk mewujudkan  pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014 maka pemerintah menyusun strategi sebagai berikut :

A.Strategi pada Subsistem Hulu

    Strategi yang dilakukan pada subsistem hulu adalah sebagai berikut :

a. Mengembangkan bibit sapi lokal (PO, Bali, dll), terutama pejantan unggul hasil seleksi dan konservasi   di daerah sumber bibit (2006-2010).

b. Perbaikan teknologi reproduksi dan bibit sapi untuk peningkatan mutu genetik (genetic improvement) melalui seleksi, pembentukan ternak komposit maupun up grading yang dapat dilakukan dengan perkawinan alam maupun inseminasi buatan (2006-2010).

c. Sistem perbibitan yang murah dan efisien, terintegrasi dengan perkebunan, tanaman pangan dan memanfaatkan sumber pakan lokal (2006-2010).

d. Memantapkan kelembagaan sistem perbibitan sapi nasional (2006-2007).

e. Pemanfaatan biomas lokal, limbah pertanian dan agroindustri sebagai sumber pakan (2006-2010).

f. Membangun pabrik pakan skala kecil dan menengah dengan memanfaatkan bahan baku lokal dan inovasi teknologi (2006-2010).

g. Mengembangkan obat tradisional dan vaksin lokal (2006-2010).

h. Membangun sarana dan prasarana seperti laboratorium keswan, pasar hewan, sumber air untuk

 B.Strategi pada Subsistem Usahatani (on Farm)

a. Memberdayakan peternakan rakyat dengan membentuk kelompok besar dan pemberian kredit dengan bunga rendah 6 persen per tahun (2006-2010).

b. Mengembangkan peternakan yang efisien, terintegrasi dengan perkebunan berskala besar dan memberi kemudahan bagi investor swasta, serta melibatkan rakyat dengan pola inti-plasma (2006-2010).

c. Mengembangkan feedlotter terintegrasi dengan perkebunan dan ketersediaan sumber pakan lokal, sehingga biaya pakan murah dan sumber bakalan lebih terjamin ketersediaannya.Keadaan ini akan terwujud apabila model integrasi ternakperkebunan telah berkembang (2006-2010).

d. Meningkatkan produktivitas ternak melalui; (i) perbaikan manajemen, (ii) mempercepat umur (waktu) beranak pertama dari 42-50 bulan menjadi 26-36 bulan melalui perbaikan dan jaminan ketersediaan pakan sepanjang tahun,(iii) memperpendek jarak beranak dari 24-36 bulan menjadi 12-18 bulan melalui perbaikan pakan dan ketersediaan pejantan unggul baik dengan kawin alam maupun inseminasi buatan, (iv) menekan angka kematian sebesar 50 persen melalui perbaikan manajemen dan penggunaan obat-obatan tradisional dan vaksin lokal yang sesuai (2006-2010).

e. Mempercepat pertambahan bobot badan ternak dan meningkatkan kualitas sapi potong dengan memanfaatkan sumberdaya lokal, terutama yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri (2006-2010).

f. Memberi kemudahan bagi swasta untuk penyediaan sapi betina komersial (impor) dalam upaya meningkatkan populasi induk produktif (2006-2007)

g. Mempercepat penyediaan sapi pejantan lokal untuk menjamin kebutuhan pejantan pada sistem perkawinan alami maupun IB (2006

C.Strategi pada Subsistem Hilir

a. Memfasilitasi tersedianya RPH skala kecil dan menengah yang memiliki fasilitas pendingin (cold storage) memadai untuk penyimpanan daging segar/beku yang tidak terserap pasar (2006-2010).

b. Meningkatkan efisiensi, higienis dan daya saing dalam pengolahan daging, jerohan dan kulit disesuaikan dengan permintaan/ keinginan konsumen (2006-2010).

c. Mengembangkan diversifikasi produk olahan daging oleh pihak swasta (2007-2010).

d. Pengembangan industri kompos dan meningkatkan mutu pengolahan limbah dan kotoran lainnya sehingga mempunyai nilai tambah lebih (melibatkan rakyat dan swasta) (2006-2010).

e. Pengembangan pembuatan biogas sebagai sumber energi lokal yang berkelanjutan bagi keperluan bahan bakar keluarga (2006-2010).

D. Strategi pada Subsistem Perdagangan Dan Pemasaran

a. Peningkatan efisiensi pemasaran ternak sapi dan hasil ikutannya melalui usaha pemasaran bersama dan melakukan pemendekan rantai pemasaran. Oleh karena itu kelembagaan kelompok petani-ternak dan sistem pemeliharaan kelompok perlu diperkuat/dikembangkan (2006-2010).

b. Fasilitas transportasi untuk mendukung pemasaran ternak antar daerah atau antar pulau perlu dikembangkan/ditingkatkan (2006-2010).

c. Mengembangkan pola usaha peternakan yang mendekati pasar dengan sistem/pola inti-plasma yang dimodifikasi agar lebih berpihak kepada peternak rakyat (2006-2010).

d. Promosi dan positioning product bahwa daging sapi lokal merupakan produk organic farming (2006 – 2010).

E. Strategi pada Subsistem Penunjang dan Kebijakan

1. Kebijakan teknis :

a. Mengembangkan agribisnis sapi pola integrasi tanamanternak berskala besar dengan pendekatan LEISA dan zerowaste, terutama di perkebunan.

b. Mengembangkan dan memanfaatan sapi lokal unggul sebagai bibit melalui pelestarian, seleksi dan persilangan dengan sapi introduksi.

c. Mengevaluasi kelayakan penerapan persilangan, teknologi IB, pengembangan BIB Daerah, teknologi embrio transfer secara selektif.

d. Memanfaatkan teknologi veteriner untuk menekan angka kematian sapi

e. Mengembangkan dan memanfaatkan produksi biogas dan kompos secara masal untuk memperoleh nilai tambah ekonomis bagi peternak.

f. Pengembangan SNI produk kompos.

 

2. Kebijakan regulasi :

a. Mencegah terjadinya pemotongan hewan betina produktif dan ternak muda dengan ukuran kecil yang jumlahnya masih sangat tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan peraturan yang berlaku melalui pendekatan sosial-budaya masyarakat setempat.

b. Melarang ekspor sapi betina produktif, terutama sapi lokal yang sudah terbukti keunggulannya (terutama sapi Bali), karena selain memicu terjadinya pengurasan sapi di dalam negeri juga ekspor bibit sapi tersebut akan memberi kesempatan negara pengimpor untuk mengembangkan plasma nutfah Indonesia dan menjadi kompetitor produsen sapi di kemudian hari.

c. Mencegah dan melarang masuknya daging dari negara yang belum bebas penyakit berbahaya, terutama PMK, BSE dan penyakit lainnya sesuai anjuran OIE, serta memberantas masuknya daging illegal yang tidak ASUH.

 

III.KESIMPULAN

`    1 .Laju pertambahan  penduduk   yang   semakin   meningkat,   mempengaruhi   akan     meningkatnya   permintaan daging sapi secara Nasional.

       2. Produksi sapi bakalan belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,sehingga Volume import sapi bakalan dan daging sapi  tahun 2005-2009 masih relatif tinggi dan berfluktuatif,karena usaha peternakan sapi masih didominasi oleh peternakan rakyat.

 3.  Kinerja Agribisnis Sapi Potong di Indonesia masih rendah,sehingga diperlukan strategi untuk mempercepat agribisnis sapi potong melalui sistem pembibitan yang baik,efektif dan efisien.

4.- Strategi dan Implementasi agribisnis sapi potong ditempuh melalui program pemerintah dengan menerapkan sistem agribisnis  mulai dari Hulu,Hilir, perdagangan dan pemasaran serta unsur penunjang lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Haris Budiyono,2010.Analisis Neraca Perdagangan Peternakan dan   Swasembada daging sapi 2014. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan wilayah Vol.1 No.2,Juli 2010

 

Prajogo U.Hadi,2002.Problem Dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong Di Indonesia.Jurnal Litbang Pertanian 2002.

 

Parimartha.K.W,Cyrilla.L,Perjaman.HP.2002.Analisis Strategi Bisnis Sapi Potong Pada PT.Lembu Jantan Perkasa,

 

Rianto.E, Purbowati.E,2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penerbit Penebar Swadaya-  Jakarta

 

Saragih,B.2001.Agribisnis Berbasis Peternakan.Kumpulan Pemikiran.Penerbit  Pustaka Wirausaha Muda – Bogor.

 

Siregar Basya.S,1996.Efisiensi Usaha Peternakan Sapi Perah Dalam Menghadapi Era Perdagangan Bebas.Wartazoa Vol.5.No1.

 

 

 

 

 

 

One Response to “TANTANGAN DAN STRATEGI AGRIBISNIS SAPI POTONG”

  1. djose October 3, 2013 at 11:40 am #

    terima kasih atas tulisan ini, saya mau cek apakh penulis pernah bekerja di NTT dan kuliah di fapet Undana?? kalau ya… ini alamat email saya…djosenaibuti@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: