Analisis Sistem Agribisnis Sapi Perah di Indonesia

18 Apr

Oleh: Sarpintono

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan peternakan sapi perah di Indonesia, berbagai permasalahan persusuan pun semakin bertambah pula baik permasalahan dari sisi peternak, koperasi, maupun dari industri pengolahan susu. Sejak dilakukan impor sapi perah secara besar-besaran dari Australia dan New Zealand pada awal tahun 1980-an, ternyata produktivitas usahaternak rakyat masih tetap rendah seolah jalan ditempat, karena manajemen usaha ternak dan kualitas pakan yang diberikan sangat tidak memadai. Memperbaiki manajemen peternakan rakyat merupakan problema yang cukup komplek, tidak hanya merubah sikap peternak tetapi juga bagaimana menyediakan stok bibit yang baik dan bahan pakan yang berkualitas dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan.

Dalam perdagangan bebas, restriksi perdagangan terutama tarif bea masuk setahap demi setahap harus dikurangi sampai mencapai 0 %. Dengan adanya perdagangan bebas ini, produk susu segar impor dapat memasuki pasaran Indonesia dengan mudah. Satu sisi, hal ini dapat memberikan peluang dan kesempatan pada konsumen untuk memilih produk susu yang mereka inginkan sesuai dengan kualitas dan harga yang dapat mereka jangkau. Tapi di sisi lain, hal ini dapat menyebabkan keterpurukan bagi para peternak sapi perah karena ketidakmampuan bersaing dalam sisi harga, kualitas, dan produksi susu dibandingkan dengan susu segar impor. Kondisi inilah yang menyebabkan para peternak sapi perah kembali tidak bergairah untuk meneruskan usaha peternakan sapi perahnya.

Berdasarkan berbagai kendala dan kondisi di atas, maka perlu di teliti tentang  permasalahan yang menghambat perkembangan persusuan di Indonesia. Hambatan perkembangan persusuan di Indonesia dapat di analisis dengan analisis sistem agribisnis sapi perah di Indonesia.

 

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.       Bagaimana sistem agribisnis pada komoditas sapi perah di Indonesia?

b.      Bagaimana pola agribisnis peternakan sapi perah di Indonesia?

c.       Bagaimana distribusi susu dari peternak sampai ke industri pengolahan susu di Indonesia?

d.      Apa saja permasalahan dan hambatan peternakan sapi perah di Indonesia?

 

1.3. Tujuan

a. Mengenal sistem agribisnis pada komoditas sapi perah di Indonesia.

b. Menggambarkan pola agribisnis peternakan sapi perah di Indonesia.

c. Menggambarkan distribusi susu dari peternak sampai ke industri pengolahan susu di Indonesia.

d. Menganalisis permasalahan dan hambatan peternakan sapi perah di Indonesia?

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan pengambil kebijakan dalam beragribisnis peternakan sapi perah bagi pelaku usaha dan pelaku utama.   Secara spesifik penelitian ini akan dapat dimanfaatkan:

a.    Sebagai masukan bagi pengusaha agribisnis sapi perah tentang sistem, pola, distribusi, permasalahan dan hambatan peternakan sapi perah di Indonesia.

b.    Sebagai masukan bagi pengambil kebijakan untuk membangun sistem agribisnis peternakan sapi perah di Indonesia.

2. Metode Penelitian

Untuk mengetahui sistem, pola, distribusi dan permasalahan dan hambatan agribisnis peternakan sapi perah di Indonesia digunakan sistem, pola, distribusi dan permasalahan dan hambatan agribisnis peternakan sapi perah di Indonesia menggunakan metode data sekunder. Data-data sekunder tersebut dianalisis dengan metode deskriptif.

3.Hasil dan Pembahasan

3.1. Sistem Agrbisnis Sapi Perah Di Indonesia

Sistem agribisnis pada komoditas sapi perah dibangun berdasarkan sistem vertical integration, yaitu antar pelaku agribisnis satu sama lain saling tergantung pada produk susu. Produksi susu hasil peternakan rakyat sebagian besar disalurkan ke Koperasi/KUD persusuan yang kemudian di pasarkan kepada Industri Pengolah Susu. Koperasi memberikan pelayanan kepada peternak sebagai anggotanya, berupa pemasaran hasil produksinya juga melayani kebutuhan konsentrat, obat-obatan, IB, memberikan fasilitas penyaluran kredit, dan memberikan pelayanan penyuluhan. Melihat sistem agribisnis tersebut, tampak bahwa bisnis persusuan tidak dapat dipisahkan antara subsistem off farm I (pra produksi=subsistem I), on farm (budidaya=subsistem II) dan off farm II (pasca produksi=subsistem III dan pemasaran hasil=subsistem IV) serta sub systempendukungnya, yaitu lembaga keuangan dan lembaga-lembaga Penelitian/penyedian SDM.

3.2. Pola Agribisnis Peternakan Sapi Perah di Jawa Barat

Pada subsistem I (pra produksi), semua input produksi (konsentrat, obat-obatan, hijauan, semen beku, peralatan inseminasi buatan, alat-alat dan mesin perah, dan sebagainya) disuplai untuk kegiatan budidaya sapi perah. Dengan adanya suplai input produksi tersebut, maka keberadaan sapi perah telah memajukan usaha atau perusahaan yang bergerak di bidang input produksi, seperti adanya pabrik pakan, pabrik peralatan dan mesin perah, dan sebagainya. yang diproduksi oleh perusahaan

Pengembangan agribisnis berbasis sapi perah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu sampai hilir. Selain itu, secara kelembagaan antara peternak, koperasi dan IPS harus menjalankan pola kemitraannya secara sinergis. Bila tidak dilakukan, niscaya bisnis persusuan tidak akan berhasil sebagaimana yang diharapkan karena sistem kerjasama yang dibangun pada komoditas sapi perah ini adalah sistem integrasi vertikal dengan satu jenis produk yang sama, yaitu susu. Bila terjadi ketimpangan pada sistem agribisnis ini, maka akan berdampak pada kehancuran subsistem yang ada di dalamnya.

 

3.3. Distribusi Susu, Input Dan Sarana Produksi

Peternak dari berbagai lokasi, baik yang berada di dataran rendah dan diperbukitan menyetorkan susunya kepada koperasi yang terdekat dengan wilayahnya melalui tempat pelayanan susu. Dari pelayanan susu tersebut, kemudian susu dari peternak dibawa ke koperasi

untuk selanjutnya dikirim kepada IPS ataupun dijual langsung ke konsumen. secara umum aliran disitribusi produk susu di mulai dari peternak. Para peternak dari berbagai lokasi mengantarkan susunya ke titik terdekat yang telah ditentukan oleh koperasi atau disebut juga

Tempat Penampungan Susu (TPS). Selanjutnya, pada jam yang telah ditentukan, susu-susu dari TPS tersebut diambil oleh koperasi melalui alat transportasi pengangkut susu untuk ditampung di koperasi. Selanjutnya pihak koperasi melakukan test dan uji kualitas susu yang dihasilkan peternak yang nantinya akan dikompensasi dengan harga susu per liternya. Susu yang ditampung oleh koperasi selanjutnya didistribusikan ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Pihak IPS memberikan pembayaran atas harga susu dan pembinaan berupa informasi harga ke koperasi. Pihak koperasi sendiri berperan memberikan pelayanan kepada anggotanya sebagai penyedia input dan sarana produksi, pembinaan terhadap peternak, pemberian kredit sapi, simpan pinjam, pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

 

 

 

 

3.4. Permasalahan dan Hambatan Peternakan Sapi Perah di Indonesia

a. Kondisi Peternakan Sapi Perah Rakyat

Sebagian besar usaha peternakan sapi perah dikelola oleh peternakan sapi perah rakyat dengan skala usaha yang tidak ekonomis. Skala usaha peternakan sapi perah sekitar 5,8 ekor/unit usaha dan kemampuan produksi sekitar 11,6 liter/ekor/hari, rataan kemampuan produksi susu di Jawa Barat sekitar 8,20 kg/ekor/hari dengan skala usaha 3,3 ekor/peternak.

b. Ketersediaan pakan

Satu permasalahan utama yang sering dialami oleh para peternak adalah kontinyuitasn masalah hijauan. Pada musim hujan, hijauan sangat berlimpah sehingga para peternak tidak begitu susah untuk mencari hijauan. Tetapi apabila musim kemarau panjang datang, maka sudah jelas kesulitan yang terjadi adalah ketersediaan hijauan. Dari tahun ketahun permasalahan ketersediaan hijauan di musim kemarau menjadi momok yang besar dan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, baik oleh para peternak maupun koperasi. Sudah ada berbagai upaya pengawetan hijauan, seperti silase, pengeringan hijauan, mengganti dengan sumber pakan lain, dan sebagainya belum efektif dalam memenuhi kebutuhan hijauan yang cukup besar tersebut.

c. Kendala Manajemen Peternakan Sapi perah Rakyat

                 Kendala manajemen peternakan sapi perah rakyat di Indonesia adalah: 1) Masih rendahnya roduktivitas sapi perah yang dipelihara peternak, karena mutu genetik (bibit) sapi perahnya rendah, juga karena manajemen budidaya ternak dan kualitas pakan yang diberikan tidak memadai. 2)  Rendahnya kualitas susu yang ditunjukan antara lain oleh tingginya kandungan kuman sekitar rata-rata diatas 10 juta/cc, yang diakibatkan oleh sistem manajemen kandang yang tradisional, sehingga harga yang terbentuk pun menjadi rendah. 3) Sapi perah sangat tergantung pada ketersediaan lahan sebagai penghasil pakan. Realitanya, lahan produktif bagi kepentingan peternakan sapi perah semakin terdesak oleh kebutuhan sektor lainnya. 4) Rataan jumlah pemilikan ternak yang tidak efesien (3,3 ekor/peternak), sehingga kurang menjanjikan keuntungan bagi peternak. Hal ini menjadikan tantangan tersendiri untuk meningkatkan skala usahanya, sehingga usaha peternak menjadi efesien. 5) Semakin langkanya sumberdaya manusia berupa tenaga kerja muda yang berusaha di bidang peternakan sapi perah. Hal ini sebagai dampak dari pergeseran orientasi pembangunan yang mengarah ke sektor jasa dan industri. 6) Belum terjadinya integrasi dan koordinasi yang harmonis antar lembaga pemerintah, swasta, koperasi dan peternak, sehingga berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kurang diantisipasi oleh para pelaku bisnis.

 

 

d. Pemasaran dan Pengolahan Hasil Produksi

Berdasarkan data yang telah diungkapkan, masih terdapat kekurangan suplai susu untuk memenuhi permintaan di Indonesia.

e. Koperasi Persusuan

              Permasalahan pada koperasi adalah: 1) Orientasi usaha masih subsisten. Umumnya Koperasi dan UKM melakukan kegiatan usahanya masih berorientasi subsisten. Artinya kegiatan yang dilakukannya hanya memenuhi kebutuhan hari ini. Orientasi sesungguhnya masih kepada produksi (budidaya), belum mampu menyusun kekuatan pasar dan sarana produksi. Akibatnya sub sistem Koperasi dan UKM masih memiliki ketergantungan usaha terhadap sub sistem lainnya, yang seharusnya terjadi saling ketergantungan antar sub sistem. 2)Kendala operasionalisasi kebijakan pemerintah. Koperasi dan UKM merupakan ajang atau obyek dari proses pembangunan bukannya subyek pembangunan. Kenyataan ini, tampak dari berbagai kebijakan yang ada, selalu diikuti dengan kegagalan dan kemacetan di sanasini (contoh kasus, KUT dan kredit program lainnya). Hal tersebut mungkin lebih disebabkan oleh profesionalisme SDM yang melakukan transfer kebijakan masih rendah dalam menghadapi gerakan Koperasi. 3)Sumber Daya Manusia (SDM). Koperasi dan UKM masih belum mampu menghargai tingkat profesionalisme SDM yang ada. Berbeda dengan dunia usaha skala Besar. Akibatnya tenaga-tenaga profesional enggan berkiprah di Koperasi dan UKM. Selain itu, masih kentalnya budaya memilih tokoh/masyarakat serba bisa, padahal kondisi yang diperlukan adalah seorang wirausaha yang profesional. Di samping itu, karena tidak profesionalnya para pengurus dan karyawan maka banyak yang menjalankan koperasi yang tidak amanah sehingga koperasi menjadi bangkrut.

f. Permasalahan Industri Pengolahan Susu

Seiring dengan dibebaskannya perusahaan pengolahan susu untuk tidak selalu menyerap susu dari peternak dan diberikannya kebebasan impor susu, maka para peternak dan koperasi harus mampu bersaing dengan produk susu dari luar negeri. Saat ini, susu segar dalam negeri masih terselamatkan dengan harga susu tepung impor yang relatif mahal dibandingkan dengan susu segar dalam negeri.

Selain itu, untuk produk ultra high temperature yang diproduksi oleh perusahaan dalam bentuk susu cair kemasan masih menjadi penolong bagi susu segar dari peternak karena IPS tidak berani membayar mahal untuk mengimpor susu cair dari luar negeri. Selama ini, 80% susu dari peternak diserap oleh IPS. Harga susu yang diterima peternak dari IPS belum mengalami penaikan padahal biaya produksi sudah semakin meningkat. Ini yang menjadi tugas dari GKSI untuk memperjuangkan peningkatan harga susu yang diterima peternak dari IPS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: