ANALISIS AGRIBISNIS PENGEMUKAN SAPI POTONG DI DESA TELADAN KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG

12 Jun

 

(Di Lihat Dari Segi Curahan Tenaga Kerja)

Oleh: EDDY SILAMAT

PENDAHULUAN

Usaha yang telah dijalankan pemerintah dengan mengimpor sapi potong, telah meningkatkan populasi yang cukup pesat. Berbagai tingkat skala  usaha ternak sapi potong dapat dijumpai, mulai dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat modern.  Keanekaragaman tersebut akibat manifestasi dari perbedaan dalam hal motivasi, teknologi, modal dan orientasi ekonomi peternak (Adiwilaga, 1982).

Usaha peternakan sapi potong di Indonesia mempunyai masa depan yang cukup cerah bagi masyarakat yang mau mengusahakan peternakan sapi potong. Menurut pernyataan Dirjen peternakan tahun 1999 untuk memenuhi permintaan akan daging sapi, Indonesia harus mengimpor dari luar negeri sebanyak 80% sedangkan dari dalam negeri hanya 20% (Muljana., 1985).

Pada peternakan sapi potong rakyat, sebagian usaha tersebut berada pada kondisi yang serba terbatas dengan skala usaha yang relatif kecil. Walaupun demikian kedudukan ekonomi usaha ternak sapi potong ini bagi petani besar artinya, sebab kehadiran usaha ternak selain dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga dan limbah usaha tani, serta kotoran sapi sebagai pupuk kandang yang utama adalah mendapatkan uang tunai harian. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak, usaha ini cukup memadai untuk dikembangkan (Atmadilaga, 1975).

Mengingat peternakan sapi potong termasuk usaha dengan penanaman modal yang tinggi per tenaga kerjanya, bila dibandingkan dengan kebanyakan usaha lain. Hal ini menuntut penggunaan yang maksimum ingin dicapai. Produksi daging sapi tahunan yang tinggi merupakan hasil dari perhatian yang dicurahkan setiap hari terhadap segala hal yang berhubungan dengan breeding, feebding, dan management.  Bila secara praktis teknik tersebut diterapkan pada suatu kelompok dalam jumlah yang cukup, hasilnya merupakan pendapatan yang memuaskan (Foleyetal, 1973).

Pembangunan di subsektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian. Selain itu, industri peternakan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan  peternak, dari yang berskala kecil menjadi skala besar dan berorientasi produksi  primer menjadi yang bernilai tambah. Sektor peternakan di Indonesia pada umumnya berbasis pada peternakan rakyat skala kecil dan sambilan, namun jumlah rumah tangga peternak cukup banyak maka total produksinya dapat berperan secara nasional. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila dalam pembinaaan peternakan rakyat layak diberikan hak hidup dan diberdayakan semaksimal mungkin (Utoyo, 2001).

Kondisi peternakan rakyat pada saat ini cukup memperihatinkan karena tidak memiliki daya saing. Ini disebabkan  ternakan sehingga produktivitas dari peternakan rakyat ini masih rendah. Rendahnya produktivitas menyebabkan pendapatan yang diperoleh peternak dari kegiatan peternakan ini belum mampu untuk meningkatkan keadaan sosial  ekonomi mereka. Sebagai salah satu faktor produksi, tenaga kerja manusia memegang pran yang sangat vital dalam proses produksi, termasuk dalam sektor pertanian. Hal ini dapat dimengerti karena berapapun besarnya alokasi faktor produksi yang lainnya tak akan  berarti apa-apa tanpa adanya dukungan tenaga kerja manusia secara penuh. Namun keterbatasan lapangan pekerjaan dan rendahnya keterampilan menyebabkan tenaga kerja di Indonesia sangat tidak terbatas jika dibandingkan faktor produksi yang lain (Mubyarto, 1984). Salah satu sektor yang banyak menyerapkan tenaga kerja manusia adalah sektor pertanian yang didalamnya termasuk sektor peternakan karena dalam proses produksi banyak menggunakan tenaga kerja manusia sehingga bisa mengurangi pengangguran di daerah sekitar peternakan.

Peternakan sapi potong sebagai salah satu peternakan yang sebagian besar dilakukan peternak rakyat dengan sekala kecil juga tidak terlepas dari permasalahan di atas. Rendahnya pengetahuan sebagian peternak tentang usaha ternak sapi potong  menyebabkan rendahnya produktivitas dan efisiensi peternakan yang diusahakan. Keadaan ini tidak hanya menyebabkan rendahnya pendapatan peternak tetapi secara umum akan menyebabkan rendahnya produksi dagiang sapi secara nasional.

Bengkulu merupakan salah satu propinsi di Pulau Sumatera  termasuk salah satu daerah yang dijadikan pemerintah untuk pengembangan peternakan sapi potong. Kabupaten Rejang Lebong tepatnya di Kecamatan Curup Selatan telah mulai diusahakan peternakan sapi potong di Bengkulu karena daerah ini berada di dataran tinggi yang memiliki iklim yang cocok untuk peternakan sapi potong.

Sejak akhir tahun 2010 pemerintah melalui Dinas Peternakan dan perikanan memberikan bantuan untuk pengembangan/penggemukan sapi potong  yang sifatnya pinjaman bergulir. Pada tahap awal program ini melibatkan lima Desa salah satunya yaitu desa Teladan. Dalam perjalanannya masalah yang dihadapi peternak di desa Teladan  sama seperti yang diuraikan di atas. Pada aspek produksi peternak dihadapkan pada rendahnya produksi daging sapi, yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan pengalaman peternak, sehingga perawatan dan pemeliharaan tidak sesuai dengan kondisi yang ideal. Rendahnya produksi daging sapi ini mengakibatkan rendahnya pendapatan yang diterima peternak. Hal ini diperparah dengan sulitnya pemasaran daging sapi yang dihasilkan peternak, karena ekonomi masyarakat di sekitar peternak tidak mampu untuk membeli daging sapi dan peternak tidak mampu untuk menjangkau pasar di luar daerah.

Rendahnya produksi daging sapi, merupakan permasalahan yang sering terjadi pada peternakan sapi potong rakyat. Hal ini disebabkan pemberian pakan dan tata laksana yang belum memadai. Pemberian pakan dan tata laksana berkaitan dengan curahan tenaga kerja peternak, karena peternak merupakan penggerak faktor produksi lainnya. Untuk lebih meningkatkan produksi dan efisiensi kerja perlu adanya penelitian mengenai curahan  tenaga kerja dan pendapatan yang diterima oleh peternak.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakanng di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu Berapakah Curahan Tenaga Kerja dan pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi potong di desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong?.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menghitung Curahan Tenaga Kerja dan pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi potong di desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan di desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. Responden dalam penelitian ini  adalah  peternakan yang mengusahakan peternakan sapi potong yang berjumlah 27 orang peternak (metode sensus).

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer yaitu  data yang diperolah langsung dari wawancara dengan peternak sapi potong yang terdiri dari 27 orang peternak dengan menggunakan daftar pertanyaan (Kuisioner) yang telah disampaikan.

Data skunder adalah data yang diperoleh dari literature-literatur  atau pustaka yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan serta instansi  yang terkait seperti BPS, Dinas peternakan dan instansi terkait lainnya.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tabulasi, dan selanjutnya dilakukan analisis kualitatif. Untuk menghitung curahan tenaga kerja digunakan rumus :

Yt = 1/n (Y1 +Y2 + Y3 +……………Yn)

Keterangan :

Yt = Rata-rata curahan tenaga kerja peternakan sapi potong (HKP)

N   = jumlah responden (orang)

Yn= Jumlah curahan tenaga kerja untuk masing peternakan (HKP)

Untuk menghitung pendapatan usaha ternak sapi potong, digunakan persamaan sebagai berikut  (Soekartawi, 1995) :

TR = Y . Py

Dimana :

TR= Total penerimaan

Y  = Jumlah produksi

Py = Harga produk per satuan

Sedangkan untuk menghitung pendapatan digunakan persamaan :

Pd = TR – TC

Dimana :

Pd     = Pendapatan peternak sapi potong (Rp)

TR    = Total penerimaan (Rp)

TC    = Total pengeluaran (Rp)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Petani

Hasil penelitian pada usaha pengembangan sapi potong ini didapat data tentang karakteristik peternak sapin potong, data ini berkaitan dengan umur, tingkat pendidikan, lama beternak. Pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan termasuk tanggungan keluarga serta luas dan system perkandangan yang diterapkan dapat dilihat pada lampiran 1. Sebagai mana terlihat pada tabel 6 sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 6.  Karakteristik Peternak Sapi Potong di Desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten\Rejang Lebong.

 

Karakteristik

Jumlah

Persentase (%)

Rata-rata

kisaran

1.   Umur (Tahun)

2.   Pendidikan Formal

          Tamatan Sd

          Tamatan Smp

          Tamatan Slta

3.   Pendidkan Non Formal

4.   Lama Beternak (Tahun)

5.   Pekerjaan Pokok (Org)

          Beternak

          Tani

          Dagang

          Tukang

6.   Pekerjaan Sampingan(Org)

          Beternak

          Tani

          Dagang

          Tukang

7.   Tanggungan Keluarga (Org)

8.   Jumlah Sapi (Ekor)

          Dewasa (Induk)

          Dara

          Pedet

9.   Luas Kandang

System Perkandangan

          Koloni

          Individu

23
2
3

10
11
4
2

20
4
3

61
81
4


100

85,18
7,40
11,12

37,04
40,74
14,81
7,40

74,07
14,81
11,12





100

41,57





33








3

2,26
3
0,15
32,4


 

26 – 65





2 – 5








1 – 5

2 – 8
2 – 5
1 – 2
30 – 36


Sumber : Data Primer Diolah, Oktober 2012

Struktur curahan tenaga kerja dalam mengelola sapi potong ini adalah alokasi curahan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan rutin memelihara ternak sapi potong selama satu tahun dapat dilihat pada lampiran 2. Pada hasil penelitian dimana tenaga kerja pada usaha ternak sapi potong di daerah penelitian sepenuhnya kegiatan dalam memelihara sapi potong ini dialokasikan meliputi kegiatan untuk membersihkan kandang, mencari rumput/hijauan serta member makan dan minuman seperti yang terlihat pada tabel 7 berikut ini :

Tabel 7. Alokasi Curahan Tenaga Kerja Usaha Penggemukan Sapi Potong di Desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong

No

Jenis kegiatan

Curahan tenaga kerja (HKSP)

Setahun

Setahuan(Per Ekor)

Persentase(%)

1.

2.

3.

Membersihkan Kandang

Mencari Rumput/Hijau

Memberi Pakan dan Minuman

30,10

91,02

18,61

6,20

78,72

3,82

21,6

65,1

13,3

Jumlah

139,73

28,74

100

Sumber : Data Primer Diolah, Oktober 2012

Analisa dilakukan pada setuap kegiatan rutin harian dalam memelihara sapi potong. Dalam penelitian ini kegiatan-kagiatan rutin harian dalam memelihara sapi potong ini meliputi kegiatan mencari hijauan, member pakan dan minuman dan membersihkan kandang. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan rutin harian dalam usaha penggemukan sapi potong untuk membersihkan kandang dilakukan bersama pekerjaan memberikan pakan dan minuman ternak yaitu pada pukul 06.00 pagi dan pukul 17.00 sore. Pekerjaan ini dilakukan oleh tenaga kerja pria pekerjaan ini memakan waktu rata-rata 0,13 HKSP/peternak/hari atau 54,6 menit, tergantung dari luas kandang dan jumlah sapi yang dipelihara.

Kegiatan rutin dalam pemeliharaan sapi potong yaitu mencari rumput /hijauan dilakukan sebanyak 1 kali sehari, pekerjaan ini dilakukan pada waktu sore hari yaitu pukul 15.00 sore. Kegiatan ini memakan waktu terlama bila jika dibandingkan dengan pekerjaan lainnya yaitu memakan waktu rata-rata sebesar 0,25 HKSP/peternak/hari atau paling lama 1 sampai 45 menit perhari tergantung dari jumlah sapi yang dipelihara. Lokasi hijauan biasanya berada pada lokasi lading peternak sehingga mempermudah peternak unutk mendapatkan hijauan, pekerjaan ini dilakukan oleh tenaga kerja pria dan adajuga tenaga kerja wanita dan anak dewasa.

Pendapatan adalah selisih antara total penerimaan  dan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak, sehingga biaya sangat mempengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh peternak. Dalam penelitia ini pendapatan yang dihitung adalah pendapatan  tunai,  dimana pendapatan tunai usah penggemukan sapi potong adalah pendapatan tunai yang diterima dari selisih antara penerimaan tuni dan biaya produksi.

Struktur biaya produksi ternak sapi potong yaitu semua biaya yang dikeluarkan oleh  peternak selama satu tahun yaitu selama masa produksi dalam usaha ternak sapi potong yang merupakan biaya produksi tunai. Dalam penelitian ini  biaya-biaya produksi tunai adalah biaya yang dikeluarkan peternak secara tunai seperti pajak, termasuk beban pembelian bibit sapi potong. Sedangkan biaya tenaga kerja dan hijauan (jenis rumput) tidak termasuk dalam biaya tunai karena biaya tenaga kerja dari luar tidak ada, dan hijauan/rumput dicari sendiri oleh peternak.

 

Tabel 8 Rata-Rata Biaya Yang Dikeluarkan Peternak Pada Usaha Penggemukan Sapi Poptong.

Uraian

Jumlah

Harga (Rp/Satuan)

Tunai

Tidak Tunai

Total

1.  Bibit

   Anak Sapi ≥8 bln

2.  Tenaga Kerja

   Dalam keluarga

 

Biaya Tetap

1.  Penyusutan Peralatan

2.  Penyusutan Kandang

3.  Pajak

 

4,86

 

139,73

 

 

4,86

 

5.000.000

 

30.000

 

 

20.000

 

24.300.000

 

 

 

97.333

 

 

4.191.900

 

 

54.400

149.524

 

24.000.000

 

4.191.900

 

 

54.400

149.524

97.333

Total Biaya Produksi

 

24.397.333

4.395.824

28.793.157

Sumber : Data Primer Diolah Oktober 2012

Penerimaan merupakan hasil kali dari jumlah produk yang dihasilkan dan harga jual, jadi besarnya penerimaan pada usaha beternak sapi potong ditentukan oleh besarnya hasil produksi yang dihasilkan dan harga yang berlaku pada saat itu. Untuk kegiatan usaha beternak sapi potong produk utama yang dihasilkan adalah daging sapi, namun di samping itu ada output yang dihasilkan oleh peteernak sapi potong yaitu hasil dari penjualan pupuk kandang atau kotoran sapi.

Rata-rata penerimaan usaha ternak sapi potong dapat dilihat pada tabel 9 berikut:

 

 

 

 

 

Tabel 9. Rata-rata Penerimaan Usaha Penggemukan Sapi Potong Per masa Produksi Per tahun

Uraian

Jumlah

Harga (Rp/Satuan)

Tunai

Tidak Tunai

Total

Per peternak

1.   Sapi (ekor)

   1 tahun pelihara

 

2.   Kotoran sapi (krg)

          Dijual

 

 

 

4,86

 

 

79,2

 

 

 

7.000.000

 

 

5.000

 

 

34.066.667

 

 

396.000

 

 

 

 

 

 

34.066.667

 

 

396.000

Total Penerimaan

 

 

 

 

34.066.667

Per ekors

1.Sapi (ekor)

   1 tahun pelihara

 

2.Kotoran sapi (krg)

          Dijual

 

 

 

1

 

 

16,3

 

 

7.000.000

 

 

5.000

 

 

7.000.000

 

 

81.500

 

 

 

 

 

 

7.000.000

 

 

81.500

Total  Penerimaan

 

 

 

7.081.500

Sumber : Data Primer Diolah Oktober 2012

Pendapatan usaha beternak sapi potong adalah pendapatan yang diterima dari selisih antara penerimaan dengan biaya produksi (lampiran 9). Dalam penelitian ini pendapatan yang dicari adalah pendapatan tunai dengan biaya produksi tunai dan tidak tunai. Seperti pada tabel 10 berikut ini:

Tabel 10. Rata-rata Pendapatan Usaha Penggemukan Sapi Potong

Uraian

Tunai

Tidak Tunai

Total

Per Peternak

1.Penerimaan

2.Biaya Produksi

3.Pendapatan

Per Ekor

1.Penerimaan

2.Biaya Produksi

3.Pendapatan

 

34.462.667

24.397.333

10.065.334

 

7.081.500

5.020.000

2.061.000

 

4.395.824

 

1.066.124

 

34.462.667

28.793.157

5.669.510

 

7.081.500

6.086.124

994.876

Sumber : Data Primer Diolah Oktober 2012

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dan data usaha penggemukan sapi potong di desa teldan kecamatan curup seltan kabupaten rejang lebong, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Berdasarka curahan tenaga kerja dalam usaha penggemukan sapi potong di desa teldan kecamatan curup seltan kabupaten rejang lebong adalah sebesar 139,73 HKSP/peternak/tahun atau untuk 1 ekor sapi curahan tenaga kerjanya sebesar 28,74 HKSP/peternak/tahun.

2.      Pendapatan tunai usaha penggemukan sapi potong di desa teldan kecamatan curup seltan kabupaten rejang lebong adalah sebesar Rp.10.065.334/peternak/tahun ini merupakn pendapatan kotor keseluruhan, dikarenakan pendapatan tersebut dipengaruhi oleh pendapatan tidak tunai sebesar Rp. 4.191.000/peternak/tahun, pendapatan ini dari tenaga kerja dalam keluarga diluar biaya penyusutan peraltan sebesar Rp. 54.400/peternak/tahun dan biaya penyusutan kandang sebesar Rp. 149.524/peternak/tahun atau untuk 1 ekor sapi peternak mendapat keuntungan atau pendapatan bersih sebesar Rp.994.876/peternak/tahun, untuk pendapatan per ekor lebih kecil dikarenakan biaya tetap yang dikeluarkan peternak jumlahnya relative sama.

Saran

1.      Untuk peternak yaitu ditingkatkan keterampilan, ketekunan dan keseriusan dalam mengelola usaha penggemukan sapi potong, hal ini agar usaha penggemukan sapi potong bukan sekedar usaha sampingan tetapi bisa menjadi usaha pokok yang dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

2.      Dalam melakukan usaha penggemukan sapi potong hendaknya peternak dapat juga memperhatikan faktor kesehatan lingkungan

3.      Bagi pemerintah hendakya meningkatkan skala usaha peternak dengan memberikan bantuan sapi potong maupun modal langsung tunai, melalui pinjaman bergulir yang pernah dilakukan sebelulmnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi. P. Agus I, Dan M. Irfan A. 1997. Analisis Curahan Tenaga Kerja Dan Pendapatan Usaha Penggemukan Usaha Penggemukan Sapi Potong. Universitas Lampung. Lampung.

Djamali, Abdoel. 2000. Manajemen Usaha Tani. Politeknik Jember. Jember.

Hernanto, F. 1989 Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya, Jakarta

Ihsan, M. N. Dkk. 2001 Penyerapan Tenaga Kerja Pada Usaha Sapi Rakyat. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Kartasaputra, A. H. 1988. Pengantar Ekonomi Produksi Pertanian.  Bina Aksara. Jakarta.

Mubyarto, 1989 Pengantar Ilmu Ekonomi    Pertanian. LP3ES. Jakarta

Makeham, J. P Dan R. L. Malcom. 1991. Manajemen Usaha Tani Daerah Tropis. LP3ES. Jakarta

Napitupulu, A. H. 1975. Usaha Ternak Sapi Potong. Bahan Kuliah Dan Latihan Penyuluh Pertanian Spesialis. Ditjen Peternakan. Jakarta.

Pulungan. 1984. Himpunan Perundang-Undangan Dan Peraturan Bidang Pertanian. Fakultas Peternakan Ipb. Bogor.

Sahili, D. G. P., Mundane. Dkk. 1989. Kemampuan Produksi Sapi Potong. Pusat Penelitian Universitas Andalas. Padang.

Sudono. A. 1999. Strategi Penelitian Ternak Perah. Pelatihan Singkat Jaringan Kerjasama Akademik Bidang Manajemen Penelitian Peternakan. Dikti-Ipb-Unib. Bengkuulu.

Soekartawi. 1984. Ilmu Usahatani Dan Penelitian Untuk Pengembang Petani Kecil. Universitas Indonesia. Jakarta

Syaril. S. 1998. Analisis Pendapatan Usaha Peternakan Sapi Potong. Unand

Taken. I. B. Dan S. Asnawi, 1971. Teori Ekonomi Mikro. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial. Fakultas Pertanian Ipb. Bogor

Tohir. M. 1993. Seuntai Pengetahuan Tentang Usaha Tani Indonesia. Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: